Oleh-oleh dari Muara Teweh (dua)

Hujan adalah cara Tuhan menjaga kita dari dahaga dan terik. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang aku dustakan jika sesekali aku mengumpati hujan dengan kata SIAL!!

Selamat pagi muara teweh….

Akhirnya setelah melewati perjalanan yang panjang kurang lebih 14 jam dan melewati hutan-hutan serta jalan-jalan yang berterjal. Pukul 4 pagi tepat aku dan rombongan sudah sampai di penginapan “Walet”. Cukup lumayanlah untuk melepaskan lelah setelah sepanjang malam dalam perjalanan meskipun penginapan disini enggak sebagus penginapan di Jakarta. Konon cerita, penginapan ini lah yang paling bagus dan paling rame.

Tak lama masing-masing rombongan mendapat kamar, termasuk aku yang sekamar dengan Agis. Bergegaslah kita (aku dan Agis) masuk kamar dan langsung mandi sedangkan Agis langsung molor hehehe, mungkin dia kelelahan, sebenanrnya aku juga lelah namun karena dari berangkat ke bandara saja aku belum mandi, masak malam ini juga aku nggak mandi. Dari pagi ketemu pagi dong…Kan bau……..tapi bau wangi loh!!! Hehehe…

Tepat pukul 5 pagi, adzan subuh berkumandang lalu aku segera sholat shubuh sebelum tidur. Aku sengaja menunggu shubuh dulu sebelum tidur, biar nggak kebablasan aja. Huh….lelah sekali hari ini. Selesai sholat, segeralah kurebahkan tubuh ini di atas kasur yang lumayan empuk dan berselimutkan selimut tebal karena ternyata udara di sini sedang dingin-dinginnya. Apalagi kalau pagi, eeeerrrrgggghhh kayak di Bandung deh dan kalau siang panasnya minta ampun. Gimana enggak sini kan daerah perkebunan kelapa sawit. Dan tak selang beberapa detik saja aku sudah terlelap. Memang perjalanan yang melelahkan. Huzzzzzzzz……

Aaahhhh…….Alhamdulillah. Aku terbangun dari tidurku dan kulihat jam di tanganku ternyata sudah pukul 09.00 pagi. Aku bergegas beranjak dari tempat tidurku dan segera mandi tapi ternyata Agis sudah duluan masuk kamar mandi, huh sebel jadi nunggu deh. Dia kan mandinya lamaaaaa banget. Tak masalah, acara kan jam 12 siang jadi masih ada waktu. So, tidur lagi aaahhh…

Selesai mandi aku berdandan biar nggak buru-buru nantinya. Dan selesainya aku sama Agis langsung makan. Karena memang makanan sudah siap saji di kursi depan kamar. Dari panitia sih pastinya. Yang bikin aku kesel tapi nyenengin adalah sikap Agis yang berjam-jam menelpon. Sama halnya kemarin sepanjang perjalanan, Agis banyak menelpon dan pagi ini dia udah nelpon lama banget. Dari pada BT nunggu jadwal acara dan dengerin Agis ngomong di telp pakai bahasa planet (Bahasa Sunda), aku memilih keluar kamar dan berasyik-asyik ria memandang langit biru di atas kota Muara Teweh. Sungguh sejuk udara pagi disini tidak seperti di Jakarta. Padahal jam sudah menunjuk ke angka 10 waktu Muara Teweh. Kalau di Jakarta sih, wuiiih jam segitu udah panas buuuaaaanget. Aku yang hobi jepret sana jepret sini gak bakalan ketinggalan dengan acara mengabadikan cuaca segar Kota Muara Teweh dengan kameraku. Meskipun kameranya bukan kamera yang bagus tapi cukuplah untuk mengabadikan kota ini. Karena pasti di Jakarta kita sudah susah mendapatkan cuaca segar di pagi hari.

 

By Mena Larasati

Muara Teweh, 28 Juni 2008

Sabtu, 11.00’ waktu Muara Teweh.

( Muara Teweh 1 jam lebih cepat dari Jakarta )

3 responses

  1. larass said: Aku yang hobi jepret sana jepret sini gak bakalan ketinggalan dengan acara mengabadikan cuaca segar Kota Muara Teweh dengan kameraku

    mana gambarnya?

    29/12/2008 pukul 12:00 am

  2. jadul1972 said: mana gambarnya?

    lagi disimpen…hehehe…masih dirahasiain. tunggu aja tanggal nonggolnya mas. oke…makasih…

    30/12/2008 pukul 12:00 am

  3. Ping-balik: Mengenang Muara Teweh «

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s