Oleh-oleh dari Muara Teweh (enam)

Biarkan kata kata ini mengalir apa adanya karena dia tak pernah tahu kemana akhir dari sebuah kata itu, barangkali ketika gapura cinta kita runtuh maka ada kata yang menjelma menjadi abadi, adalah kenangan yang terdampar dalam ingatan kita.

Jakarta…..

Tepat pukul 07.02’ waktu Jakarta. Mendaratlah sebuah pesawat terbang Garuda dengan nomer penerbangan GA 531 dengan mulus dan selamat. Meskipun awan sedikit menghitam tapi syukur Alhamdulillah awan tersebut tak sempat menghalau pendaratan pesawat itu. Ya…pesawat yang telah membawaku dan rombongan untuk kembali ke Jakarta.

Selesai landas, kita bergegas keluar pesawat menuju tempat antrian bagasi. Selepas itu, kita berpisah satu sama lainnya. Termasuk aku harus berpisah dengan Agis. Teman sekamarku di penginapan sana. Kini tinggal aku sendiri, berjalan sedikit gontai lantaran menahan rasa kantuk yang sudah menjalar hingga ku ubun-ubun di ujung kepalaku.

Dengan menyeret tas bawaanku aku berlalu menuju pintu keluar bandara dan duduk terlunglai di salah satu bangku untuk menunggu bis yang akan melaju kearah Bekasi. Alhamdulillah, aku tak perlu menunggu lama bis arah Bekasi itu. Karena tak lama kemudian bis pun datang dan aku segera menaikinya. Setelah kondukter meminta uang, aku merasa telah kehilangan nyawa. Lelah dan ngantuk hingga aku tertidur di dalam bis menuju Bekasi. Tanpa sadar pikiranku melayang dan aku tertidur. Pulas sekali….(kata sebelahku sih…)

Satu jam berlalu dan pas disaat sampai di pintu tol pondok gede, aku terbangun. Sungguh tak disangka semalam aku masih berada di Muara Teweh dan sekarang aku sudah ada di Jakarta. Terasa mimpi hari ini. Ya…mungkin masih terbawa aroma Muara Teweh dalam rasa lelahku ini. Bis terus melaju dengan pelan menuju ke pintu tol Bekasi barat. Dan saatnya aku turuuuuunnnn. Aku turun persis di lampu merah perempatan giant lalu diteruskan naik angkutan kecil sampai setia kawan dan selanjutnya aku berjalan menuju rumah. Gak terlalu jauh emang jadi aku memutuskan untuk berjalan kaki saja. Selain sehat juga sedikit irit buat kantong.

Sungguh, perjalanan yang melelahkan namun menyenangkan. Meskipun hanya sekejap aku berada di Muara Teweh setidaknya aku pernah bernafas disana dan menghirup udara segar di pagi hari serta memandang bintang berkelap kelip di malam hari. Di Muara Teweh Kalimantan Tengah. Wow…sungguh tak kusangka, karena malam ini aku hanya bisa memandang bintang di malam hari di sini. Di Jakarta, seperti biasa.

Aaaarrrrggghhhh….sebel sebel sebel !!! kenapa harus berakhir seperti ini? Huhuhu…kenapa ending dari perjalanan ini harus menyedihkan? tahu nggak kalau ternyata Hp ku hilang. Haaaahhh…mungking jatuh pas di bis setelah aku menerima telepon dari salah satu temanku. Bisa jadi karena masih lelah dan ngantuk banget jadi nggak sadar, hp aku taruh dimana. Ya….apa boleh buat kalau nasi sudah menjadi bubur. Yang penting aku sudah kenyang dengan pengalaman yang menyenangkan ini.

Dalam hati aku berkata, mungkin hp aku bisa membelinya lagi tapi pengalaman ke Muara Teweh belum tentu aku bisa mengalaminya lagi. Iya kan…. Bukankah hidup selalu berputar, karena itu nikmatilah setiap detiknya dengan hembusan nafas kita karena kita tak kan pernah tahu kapan nafas itu akan berakhir. Oke….

By Mena Larasati

Minggu, 29 Juni 2008

Bekasi, 12.00’

One response

  1. Ping-balik: Mengenang Muara Teweh «

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s