Oleh-oleh dari Muara Teweh (lima)

Biarkan mimpi itu menjulang tinggi hingga menembus langit, pada akhirnya dia akan mengerti bahwa hidup tanpa mimpi adalah hidup dalam kematian yang tetap bernyawa. Hidup tanpa tujuan!!

Aku pulang……

Tepat pukul 10 malam waktu Muara Teweh, aku dan semua rombongan di jadwalkan pulang ke Banjarmasin, tepatnya menuju Bandara Samsudin Noor lantaran pesawat yang akan membawa kami ke Jakarta akan terbang pukul 06.20’ esok pagi. Sangat singkat memang keberadaanku disini. Tapi cukup bagiku untuk menjadikan perjalanan ini sebagai kenangan terabadi di hidupku meskipun tak pernah ada yang abadi di dunia ini selain DIA tapi setidaknya menjadi bagian dari sebuah kenangan terindahku.

Perjalanan masih sama, membutuhkan waktu kurang lebih 14 jam untuk menuju ke Banjarmasin dari Muara Teweh ini. Tapi rasa-rasanya tak mungkin. Bayangkan saja sekarang sudah pukul 10 malam dan pesawat harus terbang pukul 6 lewat 20 menit dan setidaknya kita harus sampai di Bandara pukul 6 pagi. Hmmm…pasti Mas yudi harus ngebut deh malam ini. Dari pada kita telat dan ketinggalan pesawat, iya ngak…???

Akhirnya aku akan pulang juga ke Jakarta. Dan akan kembali ke rutinitas-rutinitas yang membosankan dan terkesan monoton. Apa boleh buat. Hidup ini sudah sulit man…so nikmati sajalah. Hehehe…

Jujur aku senang bisa berpergian seperti ini dan aku harap nanti atau entah kapan aku bisa berpergian ke kota-kota pedalaman yang sebenarnya merupakan daerah yang sangat subur dan tentram. Tak seperti di Jakarta. Bising, rame, serba buru-buru, macet, dll nya. Tapi itulah Jakarta. Tempatku mencari nafkah yang kata orang tua demi sesuap nasi tak apalah yang penting kompor di dapur ngebul terus. Hihihi…

Dan akhirnya, aku harus rela mengucapkan selamat tinggal Muara Teweh, meskipun aku belum sempat mendekap malam malammu penuh bintang aku senang hanya sekedar memandang keindahan-keindahanmu lewat kehampaan jiwaku. Meskipun aku belum sempat merasakan kehangatan surya mu akupun bahagia lantaran pernah berada dalam hembusan nafas kotamu dan aku bernafas dengan sanubarimu. Tunggu aku jika ada waktu…

By Mena Larasati

Muara Teweh, 29 Juni 2008

06.00’

(Dalam Kabin Pesawat, kutulis diatas kerta sementara)

One response

  1. Ping-balik: Mengenang Muara Teweh «

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s