Oleh-oleh dari Muara Teweh (tiga)

Hujan pun tak pernah menjadi penghalang bagi siapa saja yang percaya pada mimpi, bahwa mimpi itulah yang nantinya menuntun kita untuk menjadi apa dan seperti apa.

Saat Acara Berlangsung…

Menjelang siang hujan pun masih rintik-rintik membasahi jalanan kota Muara Teweh. Ternyata disini lagi musim hujan. Hmmm padahal masih bulan Juni kan? Tapi biarlah, ini adalah Anugrah Sang Kuasa. Langit yang masih nampak menghitam, menghiasi angkasa dan menjadi pemandangan indah bagi para pecinta langit ketika hujan memayunginya. Bergemuruh bersautan suara deru mesin mobil yang akan membawa seluruh rombongan yang kebetulan menginap di satu penginapan denganku.. Lalu tanpa pandang halangan sedikitpun acara pemilihan Bupati harus segera dimulai tanpa harus menunggu hujan reda.

Tepat pukul 12.00 siang, semua rombongan dibawa menuju ke lokasi acara, namun sebelumnya kita semua berkumpul di rumah Calon Bupati Muara Teweh yang sebenanrnya juga masih menjabat Bupati Muara Teweh namun mencalonkan lagi untuk kedua kalinya. Yaitu Bapak Ahcmad Di. Dalam rumah yang sangat megah itu, ada beberapa artis pendukung lainnya selain Agis tapi ada Ira Swara dan juga 4 Sekawan ( Dery, Komar, Ginanjar dan Eman ), ada juga artis –artis KDI lainnya. Entah siapa namanya, aku nggak begitu kenal.

Setelah semua pengisi acara dan panitia kumplu, segeralah kita berangkat menuju ke tempat acara. Kata mas Yudi sih sekitar 1 jam jarak yang harus kita tempuh untuk menuju ke lokasi acara dan perjalananpun harus melewati hutan-hutan kelapa sawit lantaran acara memang berada tepat di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit yaitu di daerah kecamatan Barito Utara Muara Teweh. Kebetulan rombongan dari aku harus menaiki mobil offroad. Huuu…bias dibayanginkan gimana serunya. Pasti seru lah…kayak kita lagi offroad di bukit-bukit githu deh. Memang sih, perjalanannya sangat curam lantaran kita harus melewati sepanjang hutan kelapa sawit yang jalannya bukan jalan aspal melainkan tanah putih yang sedikit gembur. Bisa dibilang sedikit licin setelah hujan menguyur daerah tersebut. Wow….asyik dan seru deh pokoknya walau sedikit menegangkan. Takut nantinya ban tergelincir oleh jalan yang licin tersebut. Tapi kita percaya kok sama Mas Yudi yang sudah paham betul daerah sana.

Sampai di lokasi acara, para pendukung kampanye sudah penuh. Berbagai atribut mulai dari spanduk kecil hingga spanduk besar, banner-banner, T-shirt, topi, bahkan foto besar sang calon Bupati. Yang terkenal dengan singkatan AYUZA, menghiasi suasana kampanye. Memang terkesan sederhana lantaran lokasinya berada di pedalaman perkebunan kelapa sawit namun para pendukung kampanye tersebut begitu antusian ketika melihat rombongan dari kami semua mulai menaiki panggung hiburan satu persatu.

Mungkin karena mereka orang pedalaman dan jarang sekali dihibur oleh artis-artis ibu kota. Mereka sangat heboh dan antusias. Terutama pas saat Ira Swara bergoyang dan berdendang, sampai-sampai ada yang hampir berkelahi. Uppsss…biasalah orang Indonesia. Ternyata untuk urusan berantem-beranteman di tempat manapun sama. Nggak di Jakarta, nggak di pedalaman. Aku tak begitu tertarik melihat keributan itu, bagiku itu hal biasa. Yang penting acara berjalan lancar dan artis yang saya bawa pun beraksi tanpa terkecuali. Sungguh maksimal aksi panggung Agis KDI dan Ira Swara.

Yang sedikit menyita perhatianku dan membuatku sedikit heran dan kagum, ketika aku berbincang dengan salah seorang penduduk asli Barito Utara yang mengatakan kalau penduduk kawasan pedalaman kelapa sawit di Barito Utara tersebut penduduknya hampir 35% berasal dari Jawa dan mungkin dari NTT hamper 15%. Ternyata dan ternyata, dimanapun berada orang Jawa hampir menguasai penduduk aslinya. Di Jakarta juga kebanyakan orang Jawa. Tapi aku nggak tahu berapa persennya. Apa ada yang tahu???

Aku juga sempat bertanya dengan orang tersebut, kenapa kebanyakan karyawan di perkebunan kelapa sawit itu orang jawa? Dan kata orang itu karena disana orang Jawa terkenal rajin dan unggah ungguh nya ada, maksudnya tingkat kesopanannya. Aku sebagai orang Jawa, sedikit bangga juga ketika mendengarnya. Hehehe…

Acara berlangsung tepat pukul 02.00 dan berakhir pukul 04.00 waktu Muara Teweh. Aku lega lantaran acara berjalan lancar dan seru meskipun sedikit ada keributan. Ya…seperti kampanye-kampanye lainnya lah. Dan biarlah…aku malas membahasnya. Nggak perlu. Selepas acara selesai, kita kembali ke rumah Bupati dan masing-masing kembali ke penginapan. Bagi rombongan aku, kita harus segera berbenah dan merapikan diri lantaran harus segera kembali ke Jakarta esok pagi dengan pesawat Garuda dengan pemberangkatan paling pagi. Akhirnya besok aku harus sudah mengakhiri perjalananku di Muara Teweh dan hanya akan menjadi kenangan yang tak kan pernah terlupakan dalam hidupku. Sungguh…

Muara Teweh, 28 Juni 2008

Sabtu, 21.00’

(kutulis kisah ini di dalam mobil dengan laptop ku, saat dalam perjalanan pulang dari Muara Teweh ke Bandara)

Salam,

Mena Larasati

One response

  1. Ping-balik: Mengenang Muara Teweh «

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

mysoulisfreedom

Just sharing about my life, my love and my dreams

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

RANGTALU

catatan ringan

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Embun Pagi Bee

Menanti embun disenja hari

Langkah-Langkah Cantik

Belajar Untuk Melangkah dan Melangkah Untuk Belajar

Lazione Budy

'Saoirse' is not a word, it's angel

%d blogger menyukai ini: