Bersama Rachel…

Cinta itu sudah selayaknya untuk diucapkan sekalipun tak harus dimiliki…

Bersama Rachel…

Hari ini aku malas untuk pulang ke kost lebih awal. Sebenarnya aku lelah dan tubuh ini sudah saatnya untuk merebah selepas seharian sedikit kuvorsir untuk bekerja. Maklumlah karyawan baru jadi masih rajin-rajin githu deh. Tapi rasa enggan menyelimuti, toh sama juga begitu sampai di kost bukan kenyamanan dan ketentraman yang kudapatkan. Melainkan pertengkaran suami istri di kamar sebelah. Hugh…sebel, apa memang hubungan rumah tangga itu harus ribut melulu? Buat apa mereka dulu menikah kalau pernikahan mereka hanya pertengkaran saja di setiap harinya. Sebenarnya aku tak peduli dengan mereka tapi aku jadi merasa terganggu bila mendengar pertengkaran mereka. Kata Laura teman sekantor ku sih aku suruh pindah kost ke tempat kost nya dia tapi kan sayang, aku baru dua minggu disana sementara aku sudah bayar kost pertiga bulan. Jadi kuputuskan untuk tetap bertahan.

Sore ini senja sedikit menarik. Dengan awan kelabu membaur dalam warna merah cerah yang merupakan biasan dari cahaya matahari yang tinggal beberapa menit saja menghilang dalam kegelapan. Aku paling suka memandangi langit yang seperti ini. Langit senja menyemput malam. Sungguh suatu masa yang membuatku bergairah menatap masa depan karena aku yakin matahari yang terbenam dalam kegelapan itu pasti esok akan kembali menyinari bumi. Memberi energi yang lebih berisi, berarti dan berseri. Hingga mampu membakar semangat dalam diri.

Aku berjalan pelan agar energi ku yang tinggal setengah tiang ini cukup untukku menempuh perjalanan pulang. Dan lagi aku sengaja berlama-lama di luar rumah, siapa tahu saja aku bisa menemukan energi lain di luar setelah seharian berada di ruangan pengap penuh dengan tumpukan kerjaan meskipun ruangan itu ber-AC, kalau kerjaan menumpuk akan menghabiskan energi juga kan?

Kuteguk air minum yang ada dalam tas kerja ku. Tinggal sedikit memang tapi cukuplah untuk menghilangkan rasa haus dan sedikit melegakan dahaganya. Setelah air dalam botolku habis kumasukkan kembali botol bekas itu ke dalam tas ku. Hehehe…kebiasaan lama. Yaitu mengumpulkan botol minuman bekas apalagi kalau botol itu bentuknya unik. Unik menurut aku sih mungkin tak unik bagi orang lain. Malah mungkin bisa dibilang aneh dan kampungan. Karena teman-teman lama ku juga banyak yang bilang kalau aku ini aneh orangnya. Suka nyimpen barang-barang bekas. Bisa dibilang koleksi ku banyak. Ada tas plastik bekas beli baju, biasanya kalau plastik itu berwarna cerah dan bergambar boneka lucu pasti aku simpen. Ada juga tutup botol, terus tas tangan dari kertas, tas bekas kue ulang tahun anak-anak dan anehnya lagi kadang sedotan juga. Yang bikin aku senang waktu itu aku diajak teman-teman pergi ke Inul Vista dan botol minumnya berwarna biru sama ungu. Hehehe…setelah habis isi botol itu langsung deh aku masukin ke dalam tas. Sampai-sampai teman-teman pada ngetawain aku. Tapi biarlah mereka tertawa yang penting aku bahagia.

Kulihat jarum jam di tangan sudah menunjuk di angka enam, itu berarti sebentar lagi langit akan benar-benar berubah gelap. Alias malam. Kusandarkan tubuh lelah ini pada batang pohon kecil yang berada persis di belakang bangku di taman kawasan Bunderan HI. Di depan Plaza Indonesia. Biasanya, sore-sore begini banyak orang-orang berkumpul disini sembari menunggu kemacetan sedikit reda, mungkin juga sebagai alasan untuk berkumpul-kumpul bersama teman-teman dari berbagai latar belakang pekerjaan bahkan bisa juga sebagai ajang mencari jodoh bagi yang sedang jomblo.

Jomblo…bicara soal jomblo, aku sendiri sebenarnya masih jomblo padahal usia sudah hampir memasuki kepala tiga dan sebenarnya juga target menikah pun sudah kelewat jauh belum lagi seruan untuk cepat-cepat menikah selalu datang bertubi-tubi dari kalangan keluargaku. Maklumlah, aku ini kan orang jawa dan adat orang jawa kalau perempuan belum menikah sampai usia kepala tiga pasti akan dijodohin. Oh tidaaaaaakkk!!! Bukannya aku menolak untuk dijodohkan tapi ada alasan tertentu yang menjadi kendala ku kenapa aku enggan untuk menikah. Ya…trauma ku pada sebuah pernikahan membuatku mengurungkan niat untuk segera menikah. Bukan karena aku pernah gagal dalam pernikahan yang berujung pada perceraian dan bukan pula karena lelaki yang kucintai kabur dengan perempuan lain. Ada alasan yang lebih berat dari itu semua dan aku belum sanggup mengatakan pada keluargaku. Seandainya saja keluargaku membaca buku diary ku, pasti mereka tahu kenapa aku merasa trauma dengan sebuah pernikahan. Tapi entah itu kapan…semua hanya soal waktu saja.

“Luna….? Plak…!!” Tiba-tiba tepukan keras mendarat di pundakku dan sedikit menyadarkanku dari lamunan panjang yang sudah dari tadi dalam kesendirianku disini.

Spontan aku kaget dan karena kebiasaanku yang latah spontan saja aku bilang “Allahu Akbar” untung saja latahku tak parah. Biasalah, kebiasaan orang Indonesia itu aneh kadang yang jelek-jelek diikutin tapi giliran yang baik-baik diabaikan.

“Gila kamu ya, paling demen deh bikin orang kaget. Untung ajah aku nyebutnya bener coba kalau yang aneh-aneh?”

Gerutuku pada sosok perempuan cantik dan mungil dihadapanku. Dia Rachel. Sahabatku waktu masih sama-sama duduk di bangku kuliah di Yogyakarta nun jauh dimata. Dia asli Padang dan sekarang tinggal di Jakarta bersama tantenya. Rachel bekerja di sebuah majalah ternama di ibu kota. Majalah fashion gaul masa kini.

Aku jadi ingat, dulu aku pernah melamar kerjaan disini sebagai Editor tapi ditolak mentah-mentah oleh si tukang interview saat itu kalau ngak lupa namanya Abi. Entah alasan apa si Abi menolak CV ku waktu itu. Katanya sih hasil tulisanku jelek abis dan ngak bermutu sama sekali. Ngak menjual lah, ngak gaul lah dan lah lah yang lainnya. Entah apa. Intinya aku ditolak mentah-mentah sama dia sebelum dia mewawancaraiku. Gimana nggak kesel baru saja duduk di depannya langsung kena semprot dan lembaran kerta CV serta tulisanku berserakan di atas meja. Aku yang ngak terima diperlakukan kasar begitu langsung aja cabut dan ngibrit. Bukannya takut sama semprotannya tapi kan harusnya dia pakai etika. Hari gini masih ngandalin etika? Enggak janji deh….itulah ciri orang Indonesia masa kini, serba latah dan ngikut-ngikut.

“Kamu ngapain disini Lun? Sendirian bengong kayak sapi ompong” kata Rachel sedikit nyengir dan melirik kearah ku yang duduk persis disampingnya.

‘Emang kenapa? Ngak boleh? Ini kan tempat umum non, bukan tempat peninggalan nenek moyang mu, so bebas-bebas aja kan. Mo bengong disini kek, mo tidur disini kek. Terserah aku lah?” jawabku dengan sedikit menggibulin dia dengan sikap BT ku padahal aku takut kalau dia tahu apa yang sedang dalam otak ku.

“Kasihan deh loe Chel” gumamku dalam hati.

“Yeeee…sensitive amat neh nona satu ini. Pasti lagi dapat yaaa?” katanya lagi tak mau kalah.

“Dapat apaan? Dapat cowok baru aku mau” jawabku

“Cowok mah aku juga mau atuh…”

Selepas itu kita tertawa bersama. Rasanya senang bisa bertemu dengan kawan lama di perantauan. Terasa hidup lebih hidup. Iklan kaleeee…..tapi emang benar. Bertemu kawan lama dapat membangkitkan adrenalin kita yang semakin hari semakin menurun, ya mungkin karena pertambahan usia dan juga perbedaan cuaca atau juga kebiasaan buruk orang jaman sekarang yang condong ke gaya bebas. Bebas makan apa saja, ngak lihat itu bergizi atau ngak yang penting gaul man. Dan juga kebiasaan gaul yang ngak sehat seperti merokok, minum, begadang and free sex. Hiiii…serem deh kalau ngomongin soal free sex. Jujur neh, tempat kost ku aja banyak yang pada githu-githuan. Katanya mereka sih ML itu enak, ya walaupun aku ini termasuk orang yang kuper tapi ngak kuper-kuper abis lah. Sering juga aku dengar kisah-kisah mereka yang suka ML dan aku juga sering mencari artikel-artikel di internet tentang ML itu apa. Eeit…tapi bukan berarti aku mau mencoba melakukannya loh hanya buat pengetahuan saja. Just it…!!!

Justru aku memang menghindari hal-hal seperti itu dan dari membaca sana membaca sini soal seputar ML, apa enak dan ngak enaknya. Apa dampak positif dan negatifnya. Aku jadi tahu dampak seputar ML dan sejenisnya. Dan menurut aku sih kebanyakan dampak negative nya. Kalau dipandang dari segi agama kan itu dosa besar dan kalau di teropong dari kesehatan cukup membahayakan juga apalagi kalau gonta-ganti pasangan. Bisa kena AIDS seperti yang banyak digembar-gemborkan oleh pihak LSM-LSM anti AIDS bahkan ada hari anti AIDS sedunia di setiap tanggal 1 Desember bukan? Tapi masih banyak juga yang begitu-begituan. Ya…itulah ciri Indonesia, yang cenderung latah. Ngak gaul kalau belum rasain ML.

Kupandangi wajah oriental dengan bentuk wajah oval disampingku. Walaupun Rachel orang Padang tapi konon cerita kakeknya orang Jepang. Dan dalam keluarganya, wajah Rachel lah yang lebih mendekati dengan wajah kakeknya. Bersyukurlah dia mempunyai wajah yang sempurna. Sempurna dalam dunia kecantikan. Mulus, bersih dari jerawat. Ngak seperti wajahku yang tumbuh jerawat disana sini. Tapi aku masih bersyukurlah karena jerawatku tak separah jerawat-jerawat yang bengkak dan membesar. Aduh jangan deh, pokonya harus pandai-pandai mbersihin wajah deh.

Nampak oleh ku kegelisahan dari wajah itu. Wajah yang biasanya penuh ceria kini sedikit mendung dan wajah yang penuh dengan ide-ide usilnya kini nampak murung. Ah…sudahlah, semoga itu hanya perasaanku saja. Tapi hati ku sedikit tergerak untuk bertanya.

“Kamu kenapa Chel? Kok murung githu, tumben amat nih” tanyaku dengan sedikit godaanku padanya dengan menghembuskan sedikit angin menggunakan mulutku di daerah sekitar telinganya. Dari dulu dia paling geli kalau ada angin berhembus di daerah telinganya. Merinding sampai ke ubun-ubun katanya. Mungkin hampir semua perempuan kali ya, karena disitulah daerah sensitive perempuan yang akan membangkitkan gairah jiwanya. Tapi tunggu dulu, kali ini jangan berpikir yang enggak-enggak. Jangan ngeres lah…hanya sebatas candaan saja.

“Iya neh, aku lagi BT” jawabnya singkat tanpa memalingkan pandangan dari arah keramaian di jalan seputar Bunderan HI. Sudah menjadi hal biasa di Bunderan HI kalau jam sore begini. Dan nggak hanya diseputar Bunderan HI saja tapi hampir di setiap ruas jalan-jalan di Jakarta. Macet total deh kalau jam pulang kantor.

“Kenapa? Kamu lagi berantem ma Mas Rio?” tanyaku lagi.

“Enggak juga sih tapi lagi bingung sendiri aja” jawabnya dengan singkat lagi.

“BT. Bingung. Semua kan ada alasannya Chel. Makanya aku nanya kenapa?” jawabku singkat juga.

Hanya kebisuan yang Rachel berikan dan yang menjawab justru suara-suara keramaian di seputar Bunderan HI. Suara mesin mobil, motor, pluitan polisi, dan juga tawa tiwi dari orang-orang yang ada disini bahkan para pedagang asongan pun turut menyumbang suara emasnya untuk menjajakan dagangannya.

“Chel…?” sapaku dengan lembut. Takut kalau-kalau dia latah juga.

“Mas Rio mendapatkan beasiswa S2 nya di Paris” kata itu yang keluar dari mulut mungilnya yang berwarna merah marun itu. Sungguh mengairahkan warna bibir itu, andai saja aku lelaki pasti sudah kulumati habis tuh bibir.

“Subhanaallah” gumamku dalam hati.

“So…what happen girls? Tidakkah kamu bangga mempunyai seorang lelaki yang pandai dan berjabatan tinggi seperti Mas Rio mu itu? Tanyaku.

“Bangga. Aku bangga sekali dengan keberhasilan Mas Rio sekarang karena itu impiannya selama ini dan nantinya kehidupan Mas Rio akan menjadi kehidupanku juga kan” jawabnya dengan sedikit bergaya diplomatik. Maklum jabatan Rachel adalah Marketing Manager di perusahaan majalah itu. Jadi harus pandai-pandai ngomong.

“Lalu apa yang membuatmu bingung?” tanyaku semakin penasaran.

“Mas Rio akan pergi ke Paris kalau dia sudah menikah denganku” jawabnya lagi.

“Ya udah, kalau begitu menikah aja lagi sama Mas Rio” jawabku spontan.

Langsung saja Rachel berpaling pandang ke arahku. Persis di depan wajahku. Hingga semakin jelas kecantikan dan kesempurnaan yang dimiliki Rachel. Betapa bersyukurnya Mas Rio yang telah berhasil mendapatkan gadis secantik Rachel. Andai saja aku lelaki pun pasti rela mati demi mendapatkan cintanya. Untung aku perempuan. Kalau lelaki terus mati hanya demi cinta, itu sih sebuah kebodohan besar dan sikap yang terlalu kekanak-kanakan. Tapi masih banyak juga yang demikian. Rela mati demi cinta. Oh my God, semoga aku bukan termasuk golongan orang-orang yang nista seperti itu.

“Kamu tuh yah kalau ngomong asal nyeplos aja” wajah Rachel berubah menjadi wajah penuh amarah kali ini. Wajah yang akan menerkam mangsanya. Mungkin kalau aku ini ayam bakar kesukaanya, sudah dilahap habis olehnya. Alhamdulillah aku bukan ayam tapi manusia.

“Aku salah ngomong ya Chel. Maaf deh…” jawabku dengan sedikit kebingungan bergemuruh di otak kanan berganti ke otak kiri ku.

“Kalau aku menikah itu berarti aku harus keluar dari pekerjaanku sekarang. Dan kamu tahu itu artinya apa?” kata Rachel dengan tetap gaya diplomatiknya. Sedangkan aku hanya geleng-geleng kepala saja dengan raut muka yang begitu kebingungan. Mungkin seperti sapi ompong beneran kalau dilihat di cermin kaca.

“Itu berarti, aku harus melepaskan jabatanku ini. Sungguh ini mneyedihkan buatku Lun. Kamu kan tahu, dengan susah payah aku mendapatkan pekerjaan ini dan dengan pontang-panting juga aku mempertahankannya hingga aku mendapatkan jabatan yang lumayan seperti ini dalam jangka waktu tak lebih dari dua tahun. Coba kamu bayangkan, gimana ngak sedih dan bingung?” jawabnya dengan mimik muka sedih layaknya sedang bermain teather.

Aku terdiam. Bingung dan tak tahu harus menimpali apa dari kata-kata Rachel ini. Mungkin aku juga akan sama sedih dan bingung seperti Rachel jika berhadapan dengan masalah ini. Bisa jadi berbeda dengan orang lain. Mungkin mereka akan berpendapat untuk apa harus bingung toh suaminya kan kaya. Berduit dan berjabatan tinggi yang pasti sudah berlimpah kemewahan. Hmmm…aku yakin, ini bukan soal materi. Kalau dibilang kaya dan berduit sebenarnya Rachel juga termasuk anak orang berada. Ayahnya Rachel seorang dokter bedah di Padang dan ibunya seorang Dosen Ekonomi di salah satu perguruan swasta di Padang juga. Sudah pasti berduit kan mereka?

Namun aku dan Rachel sama-sama mempunyai pemikiran bahwa di dunia ini bukan hanya materi yang kita raih tapi kepuasan batin dari usaha-usaha kecil yang menjadikan hasil besar dan lalu tercapai setelah melewati masa-masa sulit hanya demi sebuah cita-cita. Mungkin itu alasan mengapa aku dan Rachel bisa bersahabat sampai sekarang. Kalau dipikir-pikir kan kehidupanku dan kehidupannya berbeda 180 derajat. Dia cantik aku enggak, dia putih aku hitam, dia kaya aku biasa-biasa saja, dia pinter aku sedikit pinter. (hehehe…). Tapi kita bisa sejalan dan sepaham.

Kuhela nafasku diantara rasa bingung yang menghantuiku. Karena aku sendiri tak tahu harus berkata apa. Aku rasa Rachel sendiri juga tak begitu mengharapkan kata-kata dariku. Tapi aku melihat kebimbangan dan kegelisahan nampak jelas di raut wajahnya yang lembut dan menawan hati bagi kaum lelaki. Walaupun langit sudah gelap dan hanya disinari oleh lampu-lampu kota yang remang-remang, jelas nampak kegelisahan itu. Kasihan Rachel. Hanya i
tu yang sanggup kukatakan. Itu pun hanya dalam hati.

“Chel…aku boleh berpendapat?” tanyaku pelan disela-sela kebingunganku mau berkata apa nanti jika Rachel menjawab boleh. Padahal aku hanya ingin memecahkan kesunyian dan kebisuannya saja. Dasar aku ini sok PD dan sok jadi ahli Spikolog. Dalam hati aku malah berharap Rachel tak menijinkanku untuk berkata apa-apa.

“Kamu mau ngomong apa Lun?” kata Rachel dengan pandangannya yang masih tertuju pada keramaian di jalanan seputar Bunderan HI.

Tuiiiiiinnngggg, mau ngomong apa ya? Kualihkan kebingunganku dengan sedikit garuk-garuk kepala walaupun sebenarnya ngak gatal karena pasukan ketombe yang menempel di kulit kepalaku sudah kubunuh dengan shampoo anti ketombe tadi pagi. Untung Rachel ngak melihat ke arahku. Dan saat kubalikkan pandanganku ke arah Rachel.

“Allahu Akbar” spontan aja aku kaget. Karena ternyata wajah Rachel sudah berada persis dihadapanku bahkan wajahku hampir menubruk wajahnya.

“Resek kamu Chel” gerutuku sambil mengusap-usap dada yang hampir copot gara-gara latahku tadi.

“Loh kok marah…orang kaget-kaget sendiri makanya jadi orang tuh jangan latah. Ngak bagus tahu. Untung aja latahmu bener, coba aja kalau yang jorok-jorok. Hiii…jijey tauuuuu….”

“Hahaha….”

Aku hanya mesem-mesem saja menenangkan detak jantungku yang bergerak cepat. Dan Rachel tertawa lepas. Baru sekarang aku melihat dia tertawa selepas itu, tak lagi kebingungan menyelimuti raut wajahnya seperti tadi pertama kali dia datang kesini. Aku sedikit senang juga karena setidaknya aku berhasil membuatnya tertawa lepas walaupun tidak sengaja.

“Luna…Luna…ternyata kamu masih banyol juga ya dari dulu. Ngak berubah sama sekali. Gimana mau dapat cowok kamu kalau sikap kamu sendiri masih kekanak-kanakan kayak gini” kata dia. Perasaanku sedikit meninggi tapi langsung kuredakan dengan senyuman.

“Yeeee…yang udah puas ketawanya jadi pinter mbalikin omongan deh sekarang” kataku dengan sedikit menyibirkan bibirku, mungkin kalau dilihat di kaca kayak bibir bebek yang moncong ke depan.

Tapi sedikit tergerak juga hatiku dengan perkataan Rachel tadi. Gimana mau dapat cowok kalau sikap aku masih kekanak-kanakan kayak gini. Hmmmm…jadi nggangu pikiran deh dan harus memeras otak lebih keras lagi untuk berpikir dan berpikir. Mungkin Rachel benar juga. Ah sudahlah, lupakan saja dulu.

“Chel” Kucoba memecahkan kesunyian di antara aku dan dia.

“Heeh..”

“Kalau kamu jadi pergi ke Paris, aku bakalan sendiri dong disini. Aku bakalan kehilangan kamu dan pasti kita ketemunya masih lama” kataku dengan nada sedikit sedih.

Kali ini Rachel menatapku dengan tajam dan penuh kelembutan serta kasih sayang nya sebagai sahabat. Memang selama ini hanya dia lah yang mampu memahami segala sikap dan sifatku. Dan terkadang Rachel lah yang membuatku untuk belajar dewasa.

“Entahlah Lun. Aku sendiri juga belum tahu. Apa aku akan melepas pekerjaanku dan melupakan semua usaha kerasku untuk mendapatkan pekerjaan ini dan menikah dengan Mas Rio lalu tinggal di Paris. Atau aku akan melepaskan Mas Rio demi karier ku disini. Memang kedua-duanya sangat berarti bagi kehidupanku tapi untuk mendapatkan keduanya itu juga kan kamu tahu sendiri Lun. Dengan segala pengorbanan dan usaha kerasku untuk mendapatkan pekerjaan ini hingga sekarang aku menjadi seperti ini dan kamu juga tahu saat aku ingin mendapatkan Mas Rio, segala pengorbanan kuberikan kepadanya sampai-sampai aku harus pandai-pandai berpikir bagaimana caranya menyakinkan kepada orang tua ku tentang Mas Rio. Dan berusaha membawa Mas Rio untuk masuk ke agama Islam dengan cara perlahan-lahan. Aku berhasil. Dan sekarang semuanya telah kudapatkan. Aku bahagia dan bangga. Tapi aku sadar kebahagiaan dan kepuasan bathin itu harganya sangat mahal dan kesempurnaan itu tidak akan pernah ada di dunia ini. Jadi aku harus siap-siap dengan kata kehilangan karena kehilangan itu pasti akan menjadi akhir dalam sebuah perjalanan. Kehilangan dalam arti yang sewajarnya. Mungkin kehilangan pekerjaan atau bisa juga kehilangan pacar bahkan yang sudah berumah tangga pun nantinya akan kehilangan juga. Saya rasa istilah sehidup semati itu hanya sebuah rayuan saja. Yang penting sekarang, aku harus berpikir bagaimana caranya agar aku bisa belajar mengenal dan memahami arti kehilangan itu dalam sikap kerelaan hatiku dan kalau kamu bertanya sekarang apa yang akan aku lakukan. Jawabannya aku belum tahu karena aku belum menerapkan sikap rela dalam hidupku jadi aku perlu waktu. Jujur Lun, aku belum bisa untuk merelakan semuanya. Karena mereka adalah kebanggaanku sekarang tapi kamu tenang saja aku sedang menjajaki kata rela itu agar saat aku kehilangan satu diantara kedua pilihan itu, aku sudah siap dan tak lagi merasa kehilangan”jawabnya lantang seakan tanpa beban. Aku terbengong-bengong.

“Dan satu hal yang perlu kamu ingat Lun, walaupun aku kehilangan satu diantara mereka tapi aku tak akan pernah kehilangan kamu sebagai sahabatku. Kamu tahu mengapa?” Tanyanya dengan sinar mata yang lebih berbinar dari biasanya.

“Enggak” jawabku singkat dan masih seperti sapi ompong.

“Karena kamu ada disini” jawabnya sembari menunjukkan jari telunjuk ke arah dadanya.

Gila bener neh orang. Diplomatik banget jawabannya. Gimana cowok ngak klepek-klepek sama dia. Gumamku dalam hati. Andai saja aku memiliki sikap seperti Rachel mungkin sekarang aku menjadi Manager atau Direktur seperti dia. Tapi…itulah takdir dan nasib manusia dalam dunianya sendiri-sendiri meskipun semua sudah ada yang mengaturnya kalau si manusia sendiri tak bisa menjaga apa yang telah diberikan olehNYA pasti akan sia-sia dan hampa. Dan yang tersisa mungkin sebuah penyesalan dan perandai-andaian. Walau sebenarnya hidup tak perlu disesali.

Segala yang terjadi dalam diriku adalah hasil dari apa yang telah aku lakukan dulu. Apapun itu. Seburuk apapun hidupku sekarang, inilah pahatan yang sudah terlanjur terbentuk seperti ini walaupun bentuknya tak sama persis dalam anganku tapi inilah hasil dari pahatanku. Aku harus rela menerimanya. Apapun itu, inilah hidup yang kupahat dengan sikap dan tutur lakuku di masa silam dulu. Sepahit apapun itu, aku harus rela menerimanya. Ya…mungkin kata rela inilah yang tepat untukku sekarang yang sampai sekarang masih menjomblo. Mungkin sikap tertutupku lah yang membuat aku hingga sampai detik ini masih sendiri.

Ah Rachel…dalam penampilan kau nampak sempurna dan dalam bersikap sebagai karyawan teladan pun kau nampak bersahaja hingga derajat tinggi pun mampu kau gengam dengan ujung jari mu namun aku tak menyangka dalam kenyataan hidup sebenarnya kau begitu rapuh saat harus menyikapi sebuah kenyataan pahit dengan kata rela. Kau tahu Rachel, rela itu sama artinya dengan ikhlas. Tapi aku yakin, kamu bisa. Tanpa sepatah kata dariku pun kamu bisa menemukan jawabannya sendiri. Karena ini adalah hidupmu, mimpimu dan juga belahan jiwamu. Selamanya. Walau hati mu berkeyakinan bahwa tak ada di dunia yang abadi selain diriNYA.

“Chel, aku bangga mempunyai seorang sahabat sepertimu. Sahabat yang selalu mampu membuka matahati ku tanpa kamu menceramahiku. Darimulah aku belajar hidup dan darimulah aku akan menuai benih yang terlanjur tertanam dihatiku. Sepahit apapun itu Chel. Aku harus ikhlas agar aku bisa menjadi lebih dewasa. Sepertimu”

Itu yang ingin kukatakan padamu Chel, sebelum kamu terbang dengan pesawat itu dan menghilang di antara awan-awan kelabu membalut rindu serta menyulam mimpi baru mu. Disana tentunya bersama belahan jiwamu. Selamat jalan sahabatku.

Pekalongan, 30 Desember 2008//13.00’

5 responses

  1. pertamaxxx

    30/12/2008 pukul 12:00 am

  2. heeh mas agung emang yang pertamaxxxx…selamat deh…and hadiahnya apa ya???hmmmm…kata istimewa dari ku ‘terimakasih….’

    30/12/2008 pukul 12:00 am

  3. kwuk kwuk gw bekel ke pohon aje deh tulisannya

    30/12/2008 pukul 12:00 am

  4. dukatimerah said: kwuk kwuk gw bekel ke pohon aje deh tulisannya

    hehehe…jadi santapan monyet maksudnya mas?hahaha….tapi teima kasih deh, dirimu dah mo mampir ke tempatku.

    31/12/2008 pukul 12:00 am

  5. dukatimerah said: kwuk kwuk gw bekel ke pohon aje deh tulisannya

    halloooo buuuukkkkk…………. penikmat teh mampir nih…..oh iya, nih blognya, http://www.maximampictures.wordpress.comsorry, namanya juga mampir jadi gak sempet baca……imam jujur kan?

    01/01/2009 pukul 12:00 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s