Strenght…

For A Little Star!!

Hidup itu memang tantangan tapi bukan berarti tantangan itu saling melawan bukan??

**j**g lo!!

Lo pikir guwe tukang *g*n**t!!

**n*s*t!!

 

Pyaaarrrr….remote tipi pun jadi korban padahal remote tipi tak tahu menahu apa lagi mengerti kata kata itu. Berserakan. Berhamburan. Sudah tak lagi berbentuk remote. Kesunyian tiba tiba menjalar. Hambar. Ruang lenggang. Seperti sedang menunggu detik detik kehancuran atau kematian barangkali, iya kematian yang lebih tepatnya.

Anak kecil dibawah umur, mungkin sekitar sembilan tahunan hanya bisa diam dan melonggo. Mencoba mencari tahu dan mencerna apa yang sedang terjadi disekitarnya. Dan mencoba menangkap raut muka dua orang dewasa dihadapannya yang bersitegang. Ada apa dengan mereka?? Mengapa dengan mereka?? Apa yang mereka lakukan?? Bagaimana bisa remote tipi yang biasa saya permainkan ketika nonton tipi jadi berantakan?? Apa remote tipi itu bisa berjalan sendiri dan membanting dirinya sendiri hingga menjadi lebur?? Ah orang dewasa ini memang aneh aneh saja tingkahnya. Saya tidak mau menjadi dewasa. Mau jadi anak kecil saja. Dimanja, disayang, dibelikan ini itu. Disangjun. Dicium cium dan dipeluk peluk. Saya tidak mau cepat dewasa. Dewasa itu banyak permasalahannya. Tahu tahu mulutnya saling berkicau tak karuan. Saling nyumpah, ngumpat, menjelekkan, menghinakan dan menjijikkan. Kenapa tidak saling mengaca saja sih?? Dirumah banyak kaca besar besar untuk apa?? Untuk pajangan?? Untuk hiasan?? Atau untuk menangkap bayangan setan??

 

Saya hanya mengelus dada. Ketika mendapati si anak kecil mengadu pada saya tentang apa yang dia saksikan di depan matanya. Dan itu membuat otak saya kembali pada masa kecil saya. Andaikan otak saya ini roll film mungkin roll ini menggulung ke adegan adegan sebelumnya. Memaksa saya untuk kembali mengingatnya dan membuat badan saya dingin panas. Hati saya berdegup kencang seakan jantung saya hendak meledak dan pecah. Dan membuat otak saya memanas, benar benar ingin memuncratkan segala isinya ke tanah.

 

Saya memeluknya. Berharap saya memberikan kehangatan di hatinya yang kelak akan dia ingat selamanya, bahwa saya tidak pernah jauh darinya ketika dia membutuhkan saya. Meskipun saya harus pergi meninggalkannya.

 

Maafkan saya nak, saya masih punya sejuta mimpi di kantong kehidupan  yang selama ini saya abaikan. Maafkan saya nak, seandainya saya sudah tidak bisa lagi melihat pertumbuhanmu dari seorang anak menjadi  orang dewasa. Meskipun saya ingin mendampingimu dan melihatmu menjadi orang dewasa hebat. Dan ingatlah saya nak, sekalipun raga saya jauh, hati saya dekat. Sedekat butiran airmata saya yang menetes ketika saya larut dalam doa doa untukmu. Tidak hanya untukmu tapi untuk kedua orang dewasa mu yang sempat kau ceritakan.

 

Sebuah penyesalan yang tak bisa dinalar, anak selalu menjadi korban. Mengapa harus anak?? Mereka tidak tahu menahu soal kehidupan. Yang mereka tahu adalah bermain, belajar. Hujan hujanan dan bersepedaan. Dengan begitu si anak akan memiliki sebuah kisah dikemudian hari. Sebagai dongeng kepada dunia yang mereka ciptakan kelak. Bukankah hidup itu memang sebuah dongeng??

 

Ingin rasanya saya berkata,

 

Belajarlah nak, belajarlah pada alam. Belajarlah pada masa silam. Belajarlah pada lingkungan. Belajarlah pada kebingungan dan belajarlah pada batu karang. Kelak engkau akan menjadi pejantan tangguh. Belajarlah nak kelak, pada airmata. Pada sebuah perpisahan, pada sebilah pisau yang merajam meneteskan darah.

 

Pada butiran butiran embun pagi pun kita harus belajar nak, dengannya kita bisa melihat dalam beningnya air embun tentang sebuah wajah. Iya, wajah kita seperti apa yang nampak di kebeneningannya, itulah hati kita nak. Hati kita yang bersih atau hati kita yang kotor.

 

Pada ranting pun kita mesti belajar nak, dengannya kita bisa tahu bahwa kelak kita akan semakin tua semakin tua dan semakin tua yang nantinya kita akan ditinggalkan oleh daun daun dan bunga bunga yang setiap saat menemani kita. Sejatinya nak, kelak kita akan kembali menjadi sebuah kesendirian. Dari sendiri kita menjadi sendiri lagi.

 

Pada ilalang pun jangan pernah kita mengelak kehadirannya, darinya kita bisa belajar tentang arti sebuah pengorbanan. Ia hidup diantara semak semak belukar. Terinjak, terasing dan terlukai. Tapi ia kuat, tegar dan tak goyah sekalipun angin mengoncang ngoncangkan tangkainya. Ia tetap berdiri. Mencoba menjadi dirinya sendiri. Dan selebihnya ia menjadi penghias bagi semak semak belukar yang kerap meludahinya.

 

Percayalah nak,sepenuhnya tanamkan hati kita dan kepasrahaan hidup kita pada Tuhan. KarenaNYA kita terwujud dan karenaNYA kita akan kembali menjemput maut. DIA tidak akan pernah tinggal diam melihat kita sengsara nak, sungguh DIA yang lebih tahu apa yang kita butuhkan daripada apa yang kita inginkan. Teruslah bermimpi nak, jangan pernah menyerah sekalipun engkau akan tetap tumbuh menjadi dewasa. Jangan takut pada dewasa mu nanti, belum tentu dewasa kedua orang itu adalah dewasa mu juga. Maka teruslah kau berenang mengarungi kehidupan yang sesekali keruh dan sesekali peluh. Padanya nanti, adalah sebuah kehidupan yang lebih baik dalam satu makna bernama keabadian.

 

Dan kata kata itu hanya menguap bersama cahaya mentari yang menyeruak dilangit langitNYA.

 

Salam Menalarasati

B-kasi, 011112//11.11’

Sekedar mengeluarkan kegelisahan hati saja karena melihat anak anak yang selalu jadi korban keegoisan orang tuanya, apa mereka lupa pada sebuah janji dulu sebelum menikah? Apa mereka lupa dengan cara mereka untuk mendapatkan seorang anak??Apa mereka tidak ingat bahwa anak itu selembar kertas putih dimana orang tua nya lah yang harus menggoreskan tinta pada lembaran kertas putih itu??Apa mereka tidak sadar bahwa anak adalah titipan Tuhan?? Anakmu bukanlah anakmu, itu kata Khairil Jibran dan masih banyak perempuan yang menginginkan anak maka bersyukurlah wahai kau perempuan karena engkau adalah makhluk Tuhan yang sempurna karena bisa lahir seorang anak dari rahimmu#huuuuuhhhhhh ngelus dodo wae wes,ora ngerti soale mbesok anakku kepiye#

 

seharian bergelut dengan angka hmm mumet hehe kasih bonus biar adem…..

 

13 responses

  1. Larasati

    saya lupa mencantumkan pemilik foto nya, pemilik foto ini namanya Om Edward, kontak awal awal saya di multiply id nya banuafoto dan kabarnya beliau sudah meninggal…saya kurang tahu pasti. Andaikan benar berita itu semoga beliau diberi tempat terbaik disisiNYA. Aamiinn….

    01/11/2012 pukul 10:45 am

  2. Bahayanya kondisi itu adalah bisa berdampak pada pembentukan karakter si anak menuju arah yg tidak baik, misalnya sensitif, mudah trauma, pendendam, dan lain-lain.

    01/11/2012 pukul 11:04 am

    • Larasati

      iya pak iwan….seperti yah yg pernah pak iwan baca🙂
      terimakasih yah pak iwan, gara2 itu nemu ide nulis begini hehe

      01/11/2012 pukul 11:08 am

  3. semoga anak kaya gitu bisa kuat ya..

    01/11/2012 pukul 1:02 pm

    • Larasati

      🙂 insya allah…makasih mba Tin

      01/11/2012 pukul 1:05 pm

  4. aku sukaaaaaaaaaa lagu ini😛

    01/11/2012 pukul 1:30 pm

    • Larasati

      kirain suka sama yg nulis😛

      02/11/2012 pukul 6:45 am

  5. Sedang memikirkan hubungan antara posting di atas dengan lagu November Rain-nya GnR, apakah karena ada frase

    “nothing last forever even cold November rain”😀

    01/11/2012 pukul 5:11 pm

    • Larasati

      jangan dipikirkan mending mikir yg lain ajah mas hehehe lagu untuk didengar yah😀

      02/11/2012 pukul 6:46 am

  6. 'Ne

    dan banyak banget anak2 sekarang yang harus menyaksikan adegan yang tidak seharusnya mereka sksikan ya mbak.. semoga anak itu bisa bertumbuh kembang dengan baik dan kuat..

    02/11/2012 pukul 6:49 am

    • Larasati

      iya sedih saya melihat anak2 sekarang, dulu sebelum jaman modern anak2 jd korban krn ekonomi skrg giliran jaman dah modern dan tekhnologi semakin canggih anak2 juga yg jadi korban, di kasus ini yg saya angkat anak2 menjadi korban krn keegoisan ortunya yg lebih enjoy dgn BBMan FBan TwitterAn dll dll #huuhhh# ngelus dodo wes

      02/11/2012 pukul 6:54 am

      • 'Ne

        ada sedikit saya tulis di tulisan saya yang Baby One More Time tadi, ketika si tokoh melihat sebuah keluarga kecil dan si anak sama bapaknya sedang ibunya asyik dengan BB😀

        begitulah fakta yang banyak terlihat belakangan ini🙂

        02/11/2012 pukul 6:59 am

      • Larasati

        realita yg pahit yah tp begitulah kenyataan kadang kenyataan itu memang menyakitkan hehe

        02/11/2012 pukul 8:28 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s