Mencoba Berdamai

lilin

Gadis itu bernama Belia.

Sudah berbulan bulan ini dia gelisah. Lebih tepatnya gelisah yang panjang, gelisah yang tak bisa dia cerna dan pahami. Banyak mimpinya yang terbengkalai. Banyak cita cita nya yang gagal dia raih. Banyak harapan harapan yang sudah belasan tahun dipupuk akhirnya kandas ditengah kelelahan dan kejenuhannya. Semakin saja dia merasa jenuh, bosan dan lelah dengan semua yang dia miliki. Bahkan lebih kasarnya dia mulai MUAK dengan apa yang ada didekatnya.

Beberapa bulan mencoba menjauh dari kehidupan yang semestinya. Dia lebih enjoy dengan dunia baru yang dia ciptakan di dunia entah apa namanya. Dia sendiri juga bingung dengan dunia yang dia jalani sekarang. Terkadang dia berpikir bahwa dia tidak sepantasnya berada disini. Dia ingin pergi tapi dia juga tidak tahu hendak pergi kemana. Mencoba mencari tumpangan sana sini yang ada malah ceramah ceramah panjang yang membuat telinga panas. Dia pun mengurungkan niatnya untuk pergi jauh. Dan diam dalam kesendiriannya.

Gelisah pun kian mengurungnya. Gelisah yang lagi lagi membuat pikirannya buntu untuk berpikir. Tak ada cara lain selain dia berpasrah pada pemilik hidupnya. Tak ada ruang lain selain ruang kesendiriannya dengan penciptanya. Dia semakin membiarkan dirinya terkurung dalam gelisah. Terlebih lebih soal mimpi mimpi nya yang aneh dalam dua bulan ini. Mimpi tentang kematian yang dia sendiri tak tahu siapa dalam mimpi kematiannya.

Dia mencoba berdamai dengan mimpinya, berdamai dengan kematian dalam tidur nya yang dia sendiri tak pernah bisa menebak siapa pemilik wajah dalam mimpi kematian itu. Yang membuat dia tidak asing hanyalah sebuah rumah tua yang mana dulu dia dibesarkan dalam rumah itu bersama kedua orang tuanya dan ketiga saudara nya yang kini entah ada dimana.

Dia, semakin gelisah. Gelisah menahan kerinduan untuk mereka. Mereka yang pernah mengajarkan dia arti kebencian dan kesengsaraan. Mereka yang pernah mengajarkan tentang arti kebahagiaan dan airmata. Mereka yang semakin jauh walau jarak tak terbentang dalam jarak yang jauh. Entahlah…gelisah itu kian menjadi jadi tatkala dia teringat akan seseorang yang telah membuatnya mengenal cinta dan luka. Kenapa harus dia yang menjadi akhir dari gelisah nya saat ini?? Entahlah…sepertinya dia belum bisa berdamai dengan masa lalu yang mengecewakannya.

Kini dia mencoba untuk berdamai dengan kesendirian, berdamai dengan kegelisahan dan berdamai dengan kematian.  Dia tidak bisa lagi mengelak sebuah kenyataan. Sekalipun itu pahit. Terus saja, dia mencoba untuk memahami rencanaNYA yang lebih sempurna walau terkadang sulit untuk dipahami tapi harus dipahami.

Sakit itu adalah nikmat dan kasih sayangNYA untuk dia membenahi kehidupannya yang kerap dia lalaikan.

header502-1mp

Katakan pada bintang, untuk jangan redup sebelum matahari datang.

Katakan pada matahari, untuk jangan berhenti memberi cahaya sebelum mata tertutup panjang.

Katakan pada rembulan, jangan berhenti memberi senyuman sekalipun mendung itu menghadang.

Dan katakan pada mimpi, jangan berhenti karena kematian yang tak bisa dipahami hingga semestinya ia sendiri akan datang.

Teruslah berjalan berjalan dan berjalan hingga sampai pada titik pemberhentian Tuhan.

Salam Larassati!!

B-kasi, 121212

#foto gak nyambung haha gak papa yang penting kan narsis yah😛 tapi foto itu adalah header Larass selama berdiam disini yang sebentar lagi akan Larass delete account. Terimakasih yah buat semuanyaaaa🙂

40 responses

  1. Yang ini tulisannya kereeeen

    12/12/2012 pukul 6:53 pm

    • 😀 keren dari mananya pak?? kirain foto yg bawah yg keren hehe

      12/12/2012 pukul 7:04 pm

      • ikan paus

        12/12/2012 pukul 7:31 pm

      • mermaid😛

        12/12/2012 pukul 7:39 pm

      • wkwkwkwkkkkk…. ga masuk kriteria blas!😆

        12/12/2012 pukul 8:01 pm

      • hahahahaha urik ik…ben yoo seng penting ndang kaweeennnn😛

        muleh ah wes bengi!!

        12/12/2012 pukul 8:05 pm

      • ya… muleh trus kawen kono…😆

        12/12/2012 pukul 8:10 pm

      • hahaha maksud larass kie, om seng ndang kawen ben rak tambah pikun hehehehe

        12/12/2012 pukul 10:39 pm

      • oalah

        12/12/2012 pukul 11:21 pm

      • xixixixixixixixixixi 1-0 yah om😛

        12/12/2012 pukul 11:22 pm

      • tulisannya lah, sepertinya gaya bahasanya beda yah ?

        Mungkin ini serius ? sementara sebelumnya tidak ?

        12/12/2012 pukul 11:00 pm

      • semua serius lah pak….karena emang larass nulisnya yah pas serius hehehe tuh ada tulisan di dalam foto nya kan di foto yg bawah itu hehe dengan segenap hati…..bla bla bla

        12/12/2012 pukul 11:02 pm

      • koma menjadi jeda dan titik menjadi akhir ?

        13/12/2012 pukul 7:09 am

      • 🙂 koma dimana aku kadang bosan dan jenuh trus menghilang deh hehe dan titik dimana nantinya aku pergi kembali ke DIA tapi puisi2 ku masih ada begitu maksudnya pak hehe

        13/12/2012 pukul 12:02 pm

      • terus terang saya seneng baca puisinya, tapi kadang gak paham maksudnya. Gak papa kan ?

        13/12/2012 pukul 1:19 pm

      • Alhamdulillah…gak papa pak, sudah senang larass rasanya karena udah ada baca puisi larass…dulu jaman mp, banyak puisi larass dihujat hehe

        13/12/2012 pukul 1:38 pm

      • Mungkin kata katanya sereeeem. Ganti kata kata yang asyik saja….

        Bahasa cinta, bahasa kasih sayang dan bahasa persahabatan lebih enak dibaca loh.

        13/12/2012 pukul 1:46 pm

      • 😀 gimana yah pak….susah njelasinnya pak, yg jelas puisi itu tidak dipaksakan dan tidak ditekankan…apa yg kutulis yah mengalir saja, entahlah pak tapi ada kok beberapa yg pake bahasa2 puitis gitu, belum semua ke peindah disini pak….masih di multiply semua

        13/12/2012 pukul 1:49 pm

      • Kalau saya sih gak masalah. Ok deh, ditunggu semuanya.

        13/12/2012 pukul 1:56 pm

      • tp maaf pak, boleh nanya gak “kata serem” nya di bagian mana yah??

        13/12/2012 pukul 1:57 pm

      • jadi hanya gambar yg serem?? tadi pak lambang bilang kata2 nya serem, nah kata mana yg dimaksud pak lambang hehehe

        13/12/2012 pukul 2:43 pm

      • jadi hanya gambar yg serem?? tadi pak lambang bilang kata2 nya serem, nah kata mana yg dimaksud pak lambang hehehe bwt pembenahan karya larass juga pak masukannya pak lambang🙂

        13/12/2012 pukul 2:44 pm

      • Memanas manasi aliran darahku yang memang sedang memanas

        Biar kau lihat darah kental merah yang membanjir ke tanah

        Sebusuk apapun cinta itu, aku tetap mencintaimu

        plus gambarnya kan jadi serem.

        Eh…. maaf banget yah. Tapi sekarang kata kata seperti itu tak ada lagi.

        13/12/2012 pukul 3:04 pm

      • 🙂 terimakasih pak lambang utk komentarnya, sertidaknya ini bisa jadi perenungan larass daalam menulis…mgkg karena larass kebiasaan membaca buku2 nya oka rusmini, djenar, ayu utami yah atau entahlah…mgkg itu keresahan larass yg gak bisa diutarakan dgn lantang secara mulut yah jd begitulah…hehe…sekali lagi terimakasih yah pak🙂

        13/12/2012 pukul 3:26 pm

      • sama sama, maaf yah….. lancang mengkritik.

        13/12/2012 pukul 3:29 pm

      • enggaklah pak, larass malah suka dgn koment2 yg membangun ketimbang koment2 yg lgsg menghakimi sepihak dgn mengatai larass begini begitu dan harus begini begitu krn itu dosa hehe….pernah dulu di mp, larass dikatain pelacur gara2 nulis puisi ttg pelacur pdhl tulisan larass itu tidak sepenuhnya ttg larass…biasanya memang larass lebih suka menjadi aku dlaam tulisan itu ketimbang larass membayangkan tokoh lain, begitu pak lambang….dan utk tulisan yg antara aku, kau dan Tuhan itu dulu salah satunya ttg seorang pelacur itu jg tp yg paling parah ada puisi yg lain hehe belum berani publish disini😀

        13/12/2012 pukul 3:32 pm

      • Hm,,,,, kok kayaknya terlalu naif yah menghakimi orang lain. Apalagi tidak kenal dan tak pernah ketemu.

        Teringat pada seseorang yang “dihakimi masyarakat” sebagai seorang kafir anti agama, hanya karena namanya tercantum sebagai anggota Gerwani.

        Ah perempuan itu masih tergambar dengan jelas raut wajahnya. Dan pernah suatu masa ia mengajari saya huruf demi huruf untuk terangkai menjadi sebuah kata Bismillahirrohmanirrohiiim.

        13/12/2012 pukul 4:24 pm

      • iya, sifat manusia itu memang seperti itu pak…makanya disini sempat takut juga utk publish puisi2 ku tp kok tak pikir2 kenapa mesti takut?? hehe akhirnya posting wes walau belum semua, tujuanku menulis yah itu sudah jelas diatas header hehe

        13/12/2012 pukul 4:30 pm

      • Publish aja, kenapa takut ? wong itu punya pribadi kok, suka suka yang punya dong.

        Kalau suka, silahkan baca. Tidak suka ya gak usah dibaca. Gitu aja kok repot.

        13/12/2012 pukul 5:40 pm

      • begini ini koment yg larass harapkan setidaknya bisa menjadi bahan perenungan…🙂

        13/12/2012 pukul 3:26 pm

      • aseeek

        13/12/2012 pukul 3:29 pm

      • terimakasih sekali lagi pak lambang, di WP baru pak lambang yg melakukannya🙂

        13/12/2012 pukul 3:35 pm

      • ok seeep

        13/12/2012 pukul 4:27 pm

  2. wah wah berdamai dengan damai…. sulit juga yah berdamai😦

    12/12/2012 pukul 10:53 pm

    • hehe harus bisa mas🙂

      12/12/2012 pukul 10:54 pm

      • mancappp🙂

        12/12/2012 pukul 10:58 pm

      • nah ini mancaappp

        12/12/2012 pukul 10:59 pm

  3. 'Ne

    Suka banget🙂

    13/12/2012 pukul 1:21 pm

    • 🙂 terimakasih Ne, laras juga suka sama tulisan Ne

      13/12/2012 pukul 1:39 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s