Bintang….

 

editan photoshape

editan photoshape

Hari ini aku lahir atas nama Bintang. Entah, dari mana asalku aku tidak tahu. Dan aku enggan untuk mencari tahu asal muasalku.

Sedari kecil yang aku tahu dari sebuah lagu bahwa bintang berada di langit yang biru padahal aku selalu ada di langit yang gelap. Kau sendiri pasti tak kan menyangkal bahwa aku selalu ada diantara langit langit yang gelap. Bisa jadi aku berada di langit yang suram tanpa rembulan. Dan sesekali aku berada dibawah sinar bulan purnama dan setia pada sabit yang bersahaya.

Iya, kehadiranku selalu disaat matahari mulai tenggelam. Kau juga pasti tahu nama lain dari matahari tenggelam di barat. Siapa sih yang tak mengenal sunset? Hampir semua orang yang muda maupun tua yang berpasangan maupun yang sendirian baik yang sedang bercinta maupun merana karena luka. Sunset selalu dinanti dan dianggap sebagai penawar rasa lelahnya sebuah perjalanan.

Selebihnya setelah sunset tenggelam, langit menjadi gelap aku akan bermunculan dan disaat itulah mereka akan berjalan pulang menuju masing masing haluannya. Tanpa melihatku tanpa memperhatikan kehadiranku.

Ditinggalkan itu memang menyakitkan. Tapi sekali lagi aku tak bisa menahan kaki kaki mereka untuk berlalu membawa sebuah kenangan baru atau justru menambah luka yang kian menggangga. Biar mereka saja yang tahu.

Dianggap tidak ada itu menyesakkan. Tapi aku tak punya daya untuk berteriak memanggil mereka untuk kembali dan menatapku yang berpijar di langit gelap. Andai mereka tahu, aku punya cerita untuk mereka.

Iya, sebuah cerita tentang layang layang yang kata orang kebanyakan bisa terbang bebas di angkasa. Layang layang yang kata orang orang hanya bisa diterbangkan oleh angin. Hmmm….Tidak dengan layang layang yang aku punya, dia berada diangkasa tanpa diterbangkan angin dan talinya tak akan pernah putus karena ia tak bertali. Dia terbang dengan menggunakan cahaya hati.

Langit malam adalah sahabatku. Bulan dan arakan awan yang tak nampak di malam hari juga sahabatku. Angin pun adalah sahabatku apalagi hujan dan badai. Semua yang turun atas kehendakNYA adalah sahabatku.

Kalau begitu, seharusnya kamu bisa menjadi sahabatku karena aku juga tahu kamu ada karena kehendakNYA bukan?

Dan aku tahu, kamu lebih menyukai langit malam yang bertaburan bintang. Tak pernah luput pandanganmu dari langit, bahkan aku tahu betul rasa rasa yang pernah kamu lemparkan pada langit. Kamu selalu menganggap bahwa bintang itu adalah permata langit yang tiada tandingannya. Permata langit yang ingin sekali kamu petik tapi kamu tak berdaya.

Seperti halnya dengan aku yang tak berdaya untuk menumbuhkan benih dalam hatimu. Sekeras apapun aku berjuang tetap saja keangkuhanmu tak memudar.

Andai aku bisa, tak perlu kamu pinta aku ingin menjelma menjadi permata langit yang sesungguhnya untuk kamu. Tapi langit memberi pesan, kemungkinan DIA tak berkehendak atas takdir penyatuannya kita. Kita sama sama bukan yang terbaik untuk kita.

Bukankah kita diciptakan pada golongan diri kita masing masing?  Aku dan kamu tidak dalam golongan yang sama.

Ah, kamu…kenapa harus kamu yang selalu menjadi seseorang dalam cerita ceritaku? Tidakkah kamu bosan menjadi peran dalam kisahku? Tidakkah kamu merasa muak akan kata kata yang kugoreskan disini?

Aku tak bosan, aku tak muak. Kamu sudah terlanjur menjadi kata dalam kisahku. Apakah kamu akan marah padaku? Marahlah…aku akan diam. Kamu tahu kenapa?

Karena aku dulu juga pernah menjadi kata dalam dongeng orang lain dan aku marah. Marah besar hingga aku maki maki dia tapi justru aku merasa bersalah. Dan merasa bodoh karena hanya memikirkan diri sendiri. Aku egois, iya lebih tepatnya aku egois. Tak pernah memikirkan perasaan orang lain dari amarah yang aku ludahkan pada wajahnya. Aku menyesal, sungguh. Itu sebabnya aku akan diam saat kamu marah padaku. Setidaknya itu akan mengimpaskan kesalahan masa laluku.

Masa lalu? andai saja malam ini aku bercerita tentang masa lalu pasti ceritanya akan semakin panjang dan yang membaca pasti benar benar bosan dan muak. Yah sudah sebaiknya aku sudahi saja. Karena hari ini aku terlahir sebagai bintang maka aku tidak akan banyak berbicara.

Bintang lahir dengan kerla kerlip nya yang penuh rahasia kehidupan. Dia juga arah bagi sebuah perjalanan untuk menuju Barat. Dimana dia bernama pulang. Bukankah semua yang  menjadi kehendakNYA pasti akan berpulang? Maka kenalilah aku sebagai bintang yang akan menuntunmu dalam perjalanan pulang.

Iya kamu, kamu yang selalu menumbuhkan rasa rindu yang tak bisa aku seratkan.

Pada bintang, aku titipkan sebuah nama yang tak pernah bisa aku guratkan wajahnya. 

Salam Larassati!!

Tepian Kota Mimpi, 040413//16.30′

 

#just my imagination#

NB : foto tetap yah sunset karena aku belum punya foto taburan bintang hehe ada yang punya? mungkin bisa aku pinjam😀

8 responses

  1. amazing…..walau sedikit kurang mengerti sma kta-katanya tapi aku suka😀

    04/04/2013 pukul 9:05 pm

    • hehe ini justru aku malah bingung mba…. btw maaf yah mba klau larass jarang BW…lg riweh dan gak aktif ngeblog🙂

      04/04/2013 pukul 9:12 pm

      • gak apa2 sama aku pun baru aktif kmbali setelah hampir 1bln kurang off hehehe

        *salam rindu*😉

        05/04/2013 pukul 4:05 pm

  2. tulisan ini kaya diksi

    04/04/2013 pukul 10:48 pm

  3. jadi keluar mo lihat gemintang..

    05/04/2013 pukul 9:43 pm

  4. yah… gak bilang sih… jumat kemarin tuh… langit penuh bintang. sayangnya gak bawa kamera jadi gak foto deh.

    09/04/2013 pukul 1:25 pm

    • hehe kalau ada larass mau yah mas Ryan…

      09/04/2013 pukul 2:19 pm

      • mau gak ya?

        09/04/2013 pukul 2:27 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s