Caramu Mencintaiku…

my hand

Membaca suratmu untuk kesekian kalinya, aku tetap  saja belum bisa memahami bagaimana caramu mencintaiku.

Kamu, seseorang yang diam diam kukagumi dan mampu meluluhkan pendirian janjiku akan masa depan yang seharusnya sekarang sudah berakhir di pelaminan bersama lelaki yang terpilihkan.

Saat itu, aku memilih pergi dari rumah hanya demi kamu. Iya, kamu dan aku tak tahu apa sebab dari semua yang kulakukan. Barangkali aku nekat atau aku terlalu bodoh dalam menentukan pilihan?

Lihatlah, aku sekarang tak berkawan. Hanya desiran ombak yang setia menemani kesunyianku. Hanya tetesan air hujan yang menghangatkanku dan hanya setetes embun pagi yang kupilih menjadi pelega sebuah dahaga.

Dulu, aku sempat bertanya racun apa yang sempat kau tuangkan dalam secangkir kopi hitamku hingga aku bisa tergila gila dan terlalu luluh pada sebuah kehendak? Kau tertawa terpingkal pingkal saat kita duduk bersandar pada beranda hati kita.

Malam itu, kau biarkan jiwaku terpasung diantara sekat sekat cinta yang mengindahkan dua insan menyatu dalam padu sang waktu, memburu dan terburu. Dinding pun diam membungkam seakan memberi masa untuk kita saling berdusta.

Malam itu, kau biarkan detak jantungku berdetak kencang melebihi pacu kuda yang kerap kita tonton pada arena pacuan kuda. Kita saling memadukan dua laju yang kita buat. Dan bintang seakan membuka jalan dan arah akan sebuah pelarian.

Untuk kesekian kalinya aku membaca ulang suratmu, tetap saja tak jua menepi maksud dari barisan kata kata yang kau goreskan diatas lembaran kain sutra hitam untuk selimut malam pertama kita.

Dan tak habis pikir mengapa kain sutra itu yang kau gunakan untuk menulis surat untukku?

Hanya ada sebuah cincin emas putih polos bertuliskan namamu dan namaku dan hanya ada sebuah gelang magnet bertuliskan “cincin dan gelang ini akan menggantikanku menjagamu selama aku pergi”. Hanya itu, selebihnya hanyalah goresan tinta hitam diatas kain sutera hitam. Tak terbaca dan tak terhapuskan.

Setiap detik tak akan pernah kembali….

Lima tahun berlalu begitu saja, melesat seperti peluru yang tak bisa dihentikan. Dan lima tahun sudah cincin dan gelang ini melingkar indah di tanganku.

Iya, tak pernah lepas dari jari manisku cincin ini dan tak pernah lepas gelang magnet dari pergelangan tanganku. Kau tahu kenapa?  Seperti yang kau tulis “cincin dan gelang ini akan menggantikanku menjagamu selama aku pergi”. 

Dan kini, entah setelah lima tahun berlalu begitu saja aku memilih melepaskan cincin dan gelang itu dari tanganku. Kau tahu kenapa? Semalam aku bermimpi, cincin itu terbelah menjadi dua dan gelang itu berhamburan tak karuan. Walau itu hanya mimpi tapi sungguh mampu meremuk redamkan hatiku yang terlanjur utuh mencintaimu.

Terlebih hari ini, entah siapa yang sengaja meletakkan selembar foto diatas meja kerjaku.  Selembar foto yang mampu membuat jiwaku hancur dan seluruh isi yang ada dalam tubuhku seakan melesap ke dalam tanah yang kupijak. Terhisap. Aku benar benar merasa menjadi kosong.

Selembar foto dan selembar surat tulisan tangan yang tak lagi asing bagiku. Sebuah surat lain yang tak lagi diatas lembaran kain sutra hitam melainkan selembar kertas beraroma bunga mawar.

Dear Rasti,

Foto dan surat ini sebuah jawaban dari pertanyaan yang tersembunyi selama lima tahun ini, aku yakin kamu tidak akan bisa mengerti jika aku menjawabnya lima tahun yang lalu. Untuk itu aku memilih menunggu lima tahun berlalu, sebuah penyiksaan memang dan asal kau tahu, tidak hanya kau saja yang tersiksa menunggu lima tahun itu berlalu tapi aku juga tersiksa dengan lima tahun itu. 

Selama lima tahun ini, aku tidak pernah jauh dari mu. Aku ada dimana kamu ada dan aku selalu menjagamu bukan? karena aku tahu kamu tidak pernah melepaskan cincin dan gelang itu tapi hari ini kamu telah melepaskannya. Itu sebabnya selembar foto dan surat ini ada diatas meja kerjamu. Aku sendiri yang meletakkanya. Kenapa? Karena memang aku tidak pernah jauh darimu, sejengkalpun.

Rasti, terkadang sebuah alasan itu tidak bisa kita jelaskan. Terkadang otak kita sendiri yang harus dituntut atas sebuah pengertian.

Kau tahu, seharusnya lima tahun perpisahan kita belumlah genap. Sehari lagi baru genap. Tapi ternyata lima tahun itu tidak akan pernah genap untuk kita menyudahi mimpi ini. Aku memang yang salah, seharusnya aku tidak membuat skenario akan perjalanan cinta kita. Seharusnya aku menyadari dari awal bahwa DIA lah pembuat skenario yang terhebat.

Tapi andai saja saat itu aku mengatakan padamu bahwa aku telah menikah dengan perempuan lain dan harus menunggu lima tahun berikutnya aku baru bisa memilikimu secara utuh, apakah kamu akan mengerti? Itu sebabnya aku memberimu cincin dan gelang itu untuk menjagamu hingga pernikahanku dengan perempuan itu berakhir setelah lima tahun berlalu. 

Pernikahan yang harus terjadi untuk menebus sebuah kesalahan yang tak pernah aku lakukan. Pernikahan dengan perempuan yang harus aku perankan selama lima tahun ini dan selebihnya pernikahan itu akan berakhir dengan perpisahan. Seperti kata yang tertulis diatas selembar kertas perjanjian pernikahan.

Lima tahun yang belum genap dan selamanya tidak akan pernah genap. Karena memang kita tidak akan pernah bisa untuk menjadi satu. Maafkan aku Rasti karena aku telah membuatmu tak mengerti tentang semua ini, aku sendiri sebenarnya tak bisa mengerti tapi semua harus dimengerti.

Semoga pernikahanmu lusa mampu menjadi penawar segala luka dan kesepianmu akan sebuah pengertian dan penantian yang panjang.

Dariku, Rio. 

Membaca suratmu untuk kesekian kalinya, aku tetap  saja belum bisa memahami bagaimana caramu mencintaiku.

Salam Larassati!!

Tepian Kota Mimpi, 240413/12.30′

#ini imajinasiku mana imajinasimu?#

33 responses

  1. sedihnya…
    mencinta…

    24/04/2013 pukul 3:55 pm

    • 😀 imajinasi kok mas Ryan

      24/04/2013 pukul 3:58 pm

      • jadi gak perlu dipukpuk ya?

        24/04/2013 pukul 4:20 pm

      • hahaha tetep perlu #eh😀

        24/04/2013 pukul 4:51 pm

      • hahahaha… keseringan dipukpuk

        24/04/2013 pukul 5:07 pm

    • btw makasih yah mas Ryan sudah mau membacanya🙂

      24/04/2013 pukul 3:58 pm

  2. metamocca

    Merinding bacanya😦

    24/04/2013 pukul 3:59 pm

  3. sayang sekali… andai saja mau menunggu bbrp hari lagi… kisah yg mnyedihkan..

    24/04/2013 pukul 4:06 pm

    • imajinasi yg menyedihkan…besok harus bisa bikin imajinasi yg seru yah mas capung🙂

      24/04/2013 pukul 4:51 pm

  4. wah keren laras…kenapa gak bikin satu novel aja? aku smpe g kedip baca nya hehehe nice…

    24/04/2013 pukul 4:14 pm

    • satu novel? nanti larass gak bisa tidur mba🙂

      makasih yah mba Iza…

      25/04/2013 pukul 9:28 am

  5. Imajinasiku belum sempet ditulis… *Padahal mah males*
    Bagus Kak, saya suka suratnya

    24/04/2013 pukul 5:59 pm

    • sata juga suka isi suratnya hehehe makasih yah udah mau baca🙂

      25/04/2013 pukul 9:46 am

  6. Aku pun belum mengerti bagaimana Rio mencintai Rasti,kl dia mencintai rasti,kenapa dia menyakiti hati Rasti?cinta..penuh misteri.

    24/04/2013 pukul 6:00 pm

    • sama mba Larass juga masih bingung bagaimana cara Rio mencintai Rasti, cinta itu memang rasa yang tak bisa ditebak yah mba….makasih sudah baca🙂

      25/04/2013 pukul 9:47 am

  7. eh laras punya nama panggilan unik nih, rasti..

    24/04/2013 pukul 6:38 pm

    • wah bener juga mbak…larasati ..dipanggil rasti:mrgreen:

      24/04/2013 pukul 8:03 pm

      • bisa ajah nih😀

        25/04/2013 pukul 9:48 am

    • xixixixixixi ih mba Tin itu kan imajinasi saja😀

      25/04/2013 pukul 9:47 am

  8. Seperti aku yang tak paham, walau dua kali kubaca sudah. Entah mengapa, keterbatasanku memahami akan makna membuat ingin selalu mengeja satu demi satu huruf yang terbata. (halah….. angel)

    24/04/2013 pukul 9:00 pm

    • kalau Rasti sudah berkali kali pak membacanya tapi tetep gak ngerti hehehe makasih yah pak Lambang….

      25/04/2013 pukul 9:49 am

  9. Ketoke nek di dadikke lagu dangdut koplo wes cocok ki mbak. Hihihi🙂

    25/04/2013 pukul 10:35 am

    • ojo ngawe aku gendeng Ga, ijek isuk kie hehehe

      25/04/2013 pukul 10:41 am

      • Padahal aku mewarnai harimu hari ini e mbak. Haha:mrgreen:

        25/04/2013 pukul 10:53 am

      • maraki tambah gendeng Ga…xixixixixi

        25/04/2013 pukul 11:08 am

      • Hahaha. . Gen gak sepaneng, gak okeh pikiran mbak.😛

        25/04/2013 pukul 12:52 pm

      • ben awet enom yah….haha

        25/04/2013 pukul 1:38 pm

      • Dudu mbak, ben “rodo enom”:mrgreen:

        25/04/2013 pukul 1:43 pm

      • karepmu wes lah😀

        25/04/2013 pukul 2:29 pm

  10. hmmm ya

    25/04/2013 pukul 1:26 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s