Kota Mati…

kota mati

“Semua akan mati!! Itu sudah jelas hanya kapan kematian itu datang yang belum jelas”

Aku teringat perdebatan kita malam itu. Perdebatan tentang kematian yang sebentar lagi datang. Dulu, pertama kali aku datang ke kota mu yang angkuh dan keras ini,  aku protes. Katamu “Hidup sebaiknya buat senang senang saja sebelum kita mati!”

Dan kataku, hidup sebaiknya buat kerja mencari uang!!

Kamu hanya nyengir sembari mengacungkan jari tengah “Makan tuh uang!”

Aku heran kenapa kita harus berdebat malam itu, hingga akhirnya kamu pergi yang entah kemana. Bertanya sana sini tentang dirimu, sama sekali tidak ada yang tahu.

Hingga….belasan tahun berlalu. Harta, uang, dan rumah mewah sudah kumiliki. Iya, aku memiliki itu semua. Hidupku hanya untuk senang senang. Seperti katamu dulu. Apa kamu lupa? “Hidup untuk senang senang”.

Tiba tiba……

Kamu datang, dengan wajah yang berbeda. Penampilanmu juga sangat berbeda. Aku tidak bisa menjelaskan penampilanmu yang sekarang. Sungguh berubah total.

Dan katamu saat itu “Hidup untuk mati, teman”.

Aku mencibir dan pergi meninggalkanmu sendiri. Hingga esok pagi, aku mendengar kabar bahwa kamu kembali pergi. Pergi yang tak akan kembali lagi. Selamanya….iya kamu pergi selamanya meninggalkan dunia ini dan penggembaraanmu telah berakhir disini. Kamu sudah tenang ditempatmu sekarang.

Sungguh, kehilanganmu untuk yang ini benar benar menyisakan perih yang amat dalam. Aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata kata.

Aku hanya merasa tertampar “Saat kelak kamu benar benar pergi, kamu tak akan membawa apapun dari yang kamu miliki kecuali amalmu, teman”.

Salam Larassati!!

Tepian Kota Mimpi, 140513//15.30′

Komentar ditutup.