Terjatuh…..

sunset me

Dear ……. *sebuahnamayangtersembunyi*

Dan pada kenyataannya memang berat untuk dihadapi sendirian. Tidak mudah melupakan, tidak semudah ketika aku menemukan.

Dulu, saat aku menatap wajahmu yang sendu aku bertanya ada apa gerangan dan saat itu hanya butiran airmatamu saja yang menjawab hingga aku iba dan luluh. Terjatuh.

Seperti semburat saga yang terjatuh ke tanah saat beban di kepalamu kau sandarkan diatas pundakku. Andai saja kau tahu saat itu, rasaku juga sedang terjatuh pada sejuta rasa yang tak bisa di nalar.

Mengapa harus ada rasa yang kuenggan merasakannya? Ketika jemariku dengan lembut membelai untaian rambutmu yang terjatuh tepat disisi leherku, aku meradang dan merinding yang tak karuan. Tapi aku secepat mungkin menghadangnya karena aku tak ingin rasa rasa yang berjuta ini terjatuh ke tanah. Seperti butiran airmatamu yang beberapa tetes juga terjatuh perlahan ke tanah.

Setahun berlalu begitu saja tanpa ada secuilpun kabar tentangmu setelah butiran airmatamu terjatuh saat kepalamu bersandar dipundakku kala itu.

Dua tahun yang sama, tak terdengar kicauan burung merpati untuk  menepati janjinya dan memberi kabar tentangmu, entah buruk entah baik, yang mana saja aku ingin mendengarnya. Tapi tidak demikian adanya, padahal merpati itu tidak pernah ingkar janji. Tapi entah dengan saat itu.

Tiga tahun empat tahun berjalan seperti putaran roda yang tak pernah berhenti dan mengenal lelah. Berjalan berjalan dan berjalan tiada henti sedetikpun. Seiring arah jarum jam yang berputar. Dari angka dua belas kembali lagi ke angka dua belas. Begitu seterusnya hingga suara detik berdetak terkadang membuatku terhentak dan koyak.

Kau harus tahu, bahwa aku pernah beberapa kali membanting jam jam di dinding hanya karena suara detiknya yang berdetak membuatku resah. Padahal jam jam itu tidak pernah salah. Dia hanya bekerja karena energi yang ada dari baterai yang terpasang. Jam jam itu hanya mengikuti arus. Tidak seperti aku yang sesekali mempercepat atau memperlambat arus. Padahal arus adalah waktu yang terus mengerus.

Lima tahun, akhirnya merpati yang kian renta dan tua oleh pertambahan usia itu datang dan memberi kabar. Seharusnya ini adalah kabar gembira tapi entah, ada sisi rasaku yang kecewa. Rasa yang rapat rapat kusembunyikan dilubuk hati yang dalam paling terdalam.

Kamu telah menikah!!

Seluruh alam semesta berbahagia menyambutmu kembali dengan seseorang disisimu. Begitu juga dengan aku kala itu, aku bahagia. Sungguh bahagia walau langit langit di hatiku bergemuruh, mendung lalu hujan yang menyisakan tanah menjejak basah.

Aku heran kala itu, kenapa langit langit hatiku harus basah?? sementara kedua bola mataku mengering dan panas. Mata dan hati yang berjarak tapi sungguh ada rasa yang menjadikannya teramat dekat.

Seperti hidup dan mati, dua masa yang berjarak tapi waktu terkadang membuatnya singkat. Begitu pula mungkin dengan aku dan kamu. Kita sama sama manusia yang memiliki langit langit hati tapi ia tak pernah memiliki rasa yang sama sekalipun kita pernah sama sama saling terjatuh.

Kini aku terjatuh dan tak ada pundakmu untuk menyandarkan beban di kepalaku diatas pundakmu, seperti dulu ketika kamu menyandarkan beban di kepalamu diatas pundakku hingga butiran airmatamu beberapa terjatuh ke tanah.

Kini aku terjatuh dan beberapa butiran airmataku pun terjatuh ke atas tanah. Pasrah karena yang aku tahu, semua yang hidup ketika terjatuh, hanya T-ana-H-lah tempat ia menunduk.

 

Salam Larassati!!

Pekalongan, 160613//22.00′

Let dance with my imagination!!

14 responses

  1. 😥
    kok sedih…
    *ulurkan tangan* ayo bangkit lagi…

    17/06/2013 pukul 1:49 pm

    • sebenarnya tulisan ini tidak sedih loh kalau bisa nangkap maksud dari paragraf terakhir🙂

      btw makasih mas Ryan sudah membacanya….

      17/06/2013 pukul 9:33 pm

      • baca ulang ah…

        18/06/2013 pukul 8:57 am

      • tetep merasa sedih bacanya…

        18/06/2013 pukul 9:04 am

      • Oh yah?? kesedihan itu memang ada tapi kalau peka di paragraf ini “Kini aku terjatuh dan beberapa butiran airmataku pun terjatuh ke atas tanah. Pasrah karena yang aku tahu, semua yang hidup ketika terjatuh, hanya T-ana-H-lah tempat ia menunduk.” akan menumbuhkan semangat, kata T-ana-H ini sebenarnya mengarah Tuhan🙂

        18/06/2013 pukul 9:08 am

      • sebenarnya dari kemarin agak bingung dengan maksud memenggal ini… ke sana toh ternyata. keren deh…

        18/06/2013 pukul 10:43 am

      • sebenarnya masing2 pembaca memahaminya yah mas, tidak semua yg dipikirkan itu sama🙂

        makasih yah sudah membacanya

        18/06/2013 pukul 9:23 pm

      • kembaliannya mana?😀

        18/06/2013 pukul 9:45 pm

      • hahaha kembaliannya permen😀

        18/06/2013 pukul 10:27 pm

      • asikkk. mana permennya

        19/06/2013 pukul 11:09 am

      • besok paketan datang yah hahaha

        19/06/2013 pukul 10:44 pm

      • asikkk.
        eh datang ke mana ya? alamatku tahu kah?

        20/06/2013 pukul 8:29 am

  2. bagus tulisannya.. :”)
    mampir2 juga ya, http://www.medinaayasha.com/

    22/06/2013 pukul 4:09 pm

    • terimakasih, aku sudah berkunjung…salam kenal yah🙂

      22/06/2013 pukul 9:24 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s