180813

my birth

Fabiayyi Aalaa I Rabbikumaa tukadzdzibaan??

Maka nikmat Tuhan mana yang kau dustakan?

Setiap kali membaca ayat itu, pikiran dan hati saya langsung menunduk diam. Diam yang tak sekedar diam, adalah diam merenung.Mungkin akan bingung yang membaca pernyataan saya tentang “diam merenung”, yah sudahlah tidak perlu dipusingkan. Anggap saja itu hanya pernyataan simpang siur saya dan biarkan saya yang memahaminya. Bagi saya, sebuah puisi adalah perenungan dan perenungan adanya pada masing-masing pikiran yang tak pernah sama.

Kita memang tak pernah sama, sekalipun kita sama-sama terbuat dari tanah. Tercipta dari air mani lelaki. Hingga kepala berisi otak yang tersekat darah dan kepingan puzzle perjalanan panjang yang berakhir pada rasa lelah.

Perjalanan. Semua pasti setuju jikalau hidup ini adalah sebuah perjalanan panjang dari titik nol kembali pada titik nol atau hidup adalah sebuah proses menuju kesendirian. Dan hidup adalah hadiah terindah dari Tuhan yang harus kita jaga keu-Tuhan-nya. Suka duka adalah kisah. Airmata luka dan bahagia adalah titah. Cinta dan benci adalah jejak yang harus kita pilih.

Dalam perjalanan mencari dan menemukan ke-uTuh-an, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Memang, tidak ada yang tidak mungkin di tanganNYA tapi bukan berarti kita hanya bisa pasrah dan diam saja dalam sebuah pencarian. Kita harus terus bergerak, berjalan dan tak lelah dalam segala rasa yang membuat kita merasa gelisah dan was was. Bukankah Tuhan telah menjamin kebahagiaan bagi hambaNYA yang mau berlelah dan tertatih dalam sepanjang perjalanan dan pencarian?

Hanya saja, terkadang “disini adalah saya sendiri” lebih memilih diam dan pasrah pada keadaan. Sungguh disayangkan sekali, saya yang hanya diam tanpa diam perenungan. Seharusnya diam saya adalah diam perenungan.

Belasan tahun hingga puluhan tahun seakan berlalu sia sia saja, begitu-begitu saja tanpa sebuah pemaknaan hidup yang bisa saya petik pada senja usia yang kian menepi.

Usia. Iya, tepat hari ini dimana delapanbelas agustus dua ribu tiga belas adalah hari penambahan usia saya secara nemuric tapi juga merupakan pengurangan umur dan kesempatan saya berada di dunia ini. Semakin tua saja, semakin senja saja. Semakin mendekati gerbang akhir dalam sebuah perjalanan panjang.

Dulu, saya kurang menghargai waktu bahkan sama sekali tidak pernah berpikir dalam makna perayaan ulang tahun. Hura-hura, makan-makan, senang-senang adalah saya.  Melupakan bagaimana caranya bersyukur dan menghargai umur adalah kebodohan saya.

Kini, setelah setengah perjalanan saya dalam penyatuan kepingan-kepingan puzzle, saya menemukan kehidupan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, cukup dengan cara diam merenung, saya menemukan makna dari ke-uTuh-an yang selama ini saya cari.

Dia adanya di hati kita. Di hati yang bersih dan tenang, seperti telaga, sekalipun ia berwarna. Seperti cahaya, walau sesekali gelap menjadi sayap. Seperti bintang, berkelip tiada rintang. Dia yang selalu menjaga, tak pernah tidur ataupun alpa dalam pengawasan. Dia yang selalu mencinta, tak pernah mendusta ataupun mendendam angkara jiwa. Dia, sebuah cinta yang tak bisa kita ingkari.

 

lebaran

Disabilitas tak akan pernah membuat saya berhenti melangkah untuk terus menuju langit dan memetik bintang, mencari terus mencari makna ke-uTuh-an.

Kata disabilitas, dulu adalah sebuah sekat untuk saling mengacuhkan, merendahkan dan membedakan. Dimana yang disabilitas selalu tertindas. Dimana yang disabilitas lebih asik dengan kesendirian dan kesunyian sekalipun sebenarnya hatinya merindukan keramaian dan kegaduhan yang bisa membuat dia lebih percaya diri dalam langkah.

Disabilitas, disini adalah saya, selalu merasa tersisih dan tak mempunyai percaya diri. Karena sifat itulah, saya pernah memarahi Tuhan. Mengapa? Kenapa? Bagaimana? Tak adil, padahal Tuhan sungguh teramat adil.  Diciptakannya manusia itu sempurna, tidak cacat dan tidak ada kurang sedikitpun.  Tak ada satu pun manusia yang sempurna.

Bodohnya saya yang sempat berpikiran sempit dan Tuhan tetap dalam kasih sayangNYA. Dia berkehendak hingga menyibak kegelapan hati menjadi terang benderang. Maka nikmat Tuhan mana yang saya dustakan?? Andai saja saat itu saya tidak terjatuh maka saya tidak akan pernah bangkit.

Terjatuh adalah titik awal sebuah kebangkitan seandainya saja kita mampu menyadari dan memahami makna keterjatuhannya kita.

Saya rasa, masih banyak manusia yang tak memiliki, yang tak lengkap, yang tak sempurna tapi mereka mampu menjadi apa yang mereka ingin menjadi dan berhasil menemukan apa yang mereka cari hingga mereka bisa menjadi lebih unggul. Mengapa saya tidak?? Pertanyaan itu selalu menjadi pemicu bagi saya untuk terus berjalan, mencari dan memahami bahwa segala yang ada dalam kehidupan adalah yang terbaik bagi saya. Tuhan lebih mengerti mana yang terbaik, mengapa saya tidak bersyukur? Dan  terlambat itu terkadang lebih baik daripada tidak sama sekali.

Usia yang semakin mendekati senja, sudah sepatutnya menjadi ladang perenungan sebuah hati dan jiwa yang kelak akan menjumpai kesendirian yang lebih abadi. Menjadi lebih baik adalah langkah awal hidup bahagia. Dan bersyukur menjadi gerbang sebuah perjalanan panjang.

 

Tanpa nyala lilin

tanpa suara keramaian

tanpa teman

aku memilih dalam diam

diamku adalah diam Tuhan

gaduhku adalah gaduh Tuhan

Cintaku adalah Cinta Tuhan

maka segala rasa tunduk dalam satu peluk

airmata tak lagi menjadi luka

dan jiwa serta penyempurnaanya

bersyukurlah mereka, yang diam mensucikan jiwanya

 

 

Salam Larassati!!

Tepian kota Mimpi, 180813

 

 

“Tulisan ini disertakan dalam TGFTD – Ryan GiveAway

banner-giveaway

27 responses

  1. Tulisan reflektif dan menginspirasi. Tak mengapa selalu bertanya mengapa Tuhan menjadikan kita begini atau begitu. Toh, pada akhirnya, kita akan temukan kesadaran yang sesungguhnya. “Dari titik nol kembali pada titik nol”, kalimat itu dimana ya? Perasaan ada di sini, deh: http://www.miesatra.wordpress.com. Ha.

    19/08/2013 pukul 12:24 am

    • terimakasih sudah mengingatkan tentang tulisan Titik Nol itu, seharusnya saya kasih link yah….salam kenal, makasih sudah datang🙂

      19/08/2013 pukul 9:27 pm

      • He. Oke, sama2, Mbak! Moga makin produktif, ya.

        19/08/2013 pukul 9:50 pm

      • Aamiinn…..makasih doa nya, itu juga harapan saya yg semakin menurun produktifitasnya🙂

        19/08/2013 pukul 9:52 pm

      • Moga kita penduduk WP bisa saling mendukung satu sama lain. Yang lagi nurun, ya disemangati gimana caranya produktif lagi produktif lagi. Yup, pokoknya optimis roda akan terus berputar. He

        19/08/2013 pukul 9:56 pm

      • barangkali mengunjungi dan membaca artikel mas Hasan saya bisa menemukan inspirasi hehe duh saya jadi pengen durian pas buka blog nya😀

        19/08/2013 pukul 10:03 pm

      • He. Makasih tlah sudi berkunjung, walau hidangannya sederhana. Ayo, segera meluncur ke penjual durian. Maknyus, lho djamin..

        19/08/2013 pukul 10:08 pm

      • hmmm disini lg gak musim durian nih hehe

        19/08/2013 pukul 10:10 pm

      • Emang dmana, Mbak? Mungkin bentar lagi, ya..he

        19/08/2013 pukul 10:12 pm

      • saya sementara tinggal di Bekasi….belum musim disini

        19/08/2013 pukul 10:17 pm

      • He. Emang akan tinggal dmana lagi setelah Bekasi? Mau ditransfer durian dari kampungku? Ha..ha

        19/08/2013 pukul 10:24 pm

      • belum tahu dimana setelah dari Bekasi xixixixixi mau bangeeeeeeettttt dikirimin duren :p

        19/08/2013 pukul 10:38 pm

      • Ha..Duren (duda keren) atau Duren (buah)?

        19/08/2013 pukul 10:54 pm

      • hahahaha dua duanya boleh #LOL

        21/08/2013 pukul 9:52 am

      • Hahaha…

        21/08/2013 pukul 9:56 am

      • Ha..ha. Duda keren atau Duren buah?

        19/08/2013 pukul 10:55 pm

  2. Tuhan telah merencanakan semua yang terbaik untuk hamba-hambanya.jatuh bisa saja merupakan teguran atau cobaan dariNya. Setiap kata-kata mbak membuat saya juga ikut diam merenung.

    19/08/2013 pukul 8:22 am

  3. Jadi malu sendiri. Nikmat tuhan yang mana yang saya dustakan?T.T
    Makasih pengingatnya Mba dan semoga sukses giveawaynya..🙂

    19/08/2013 pukul 11:03 am

    • terimakasih mas Dani….

      19/08/2013 pukul 9:48 pm

  4. Hey, guess what? asmie iri padamu mbak, sangat, karena… engkau begitu menginspirasi kita semua, I wish to get to know you even better..😉

    19/08/2013 pukul 5:01 pm

    • salam kenal mba Asmie….terimakasih sudah mampir dan membacanya🙂

      19/08/2013 pukul 9:48 pm

  5. Maaf lahir batin Ras, mudah2an belum telat🙂

    20/08/2013 pukul 10:21 am

    • sama sama mba Ika🙂

      makasih

      21/08/2013 pukul 9:52 am

  6. sukses ya laras sama GA-nya..

    20/08/2013 pukul 4:05 pm

    • terimakasih mba Tin, makasih….maaf lahir batin yah mba🙂

      21/08/2013 pukul 9:53 am

  7. Melihat “hidup” dari luar melalui perenungan seringkali memberi lebih banyak makna tentang hidup itu sendiri. Tulisan yang menginspirasi lagi dari Mba Laras, terima kasih.

    31/08/2013 pukul 11:07 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s