#2 Perjalanan Refleksi Diri – Dalam Diri….

sunrise17 September 2013

Selamat pagi Cinta? Nikmat Tuhan mana yang kita dustakan? Saat tubuh merapat kian merapat dalam sentuhan subuh Jogja yang dingin tapi menghangatkan. 

Aku terlempar pada satu kisah yang memberiku kenangan. Dimana ia terletak di sebuah hati terdalam.

Biarkan saja ia mendalam dan kian mendalam. Pada akhirnya sebuah kenangan akan berakhir pada satu jawaban. Untuk apa kita saling menanti jika semestinya cinta yang ada adalah CintaNYA.

—————————————————————

Kita tidak akan pernah tahu bagaimana caranya Tuhan memberikan kejutan dan kapan waktu untuk sebuah kejutan itu. Segala yang terjadi memang terkadang adalah hasil dari apa yang pernah kita lakukan di sebelum masa sekarang.  Aku sengaja melemparkan diri kembali masuk ke dalam lorong waktu yang membawaku pada masa lalu. Asal kau ingat, kembali memasuki lorong waktu masa lalu bukan berarti kita harus kembali menggulang kejadian kejadian di masa lalu, hanya cukup sekedar menggenang dan sepatutnya untuk sebuah pembelajaran diri agar setelah kita keluar dari lorong waktu, kita mendapati jawaban jawaban yang berkali kali kita cari di luar padahal jawaban itu ada di dalam. Di dalam mana? Di dalam diri kita sendiri yang semestinya bisa dengan mudah ditemukan bagi orang orang yang melakukan perjalanan ke dalam diri dengan jalan mencari ke-u-Tuhan.

Pada aku, aku bertanya dalam diri. Apakah surga dan neraka berada pada jarak yang tak terlampau jauh? Jika dosa dan kebaikan selalu seimbang dalam bentuk tindakannya. Sekalipun aku tahu, timbangan Tuhan lebih adil daripada timbangan yang kerap aku jumpai dalam kehidupan sehari hari. Terkadang aku lupa, baik belum tentu baik di mataNYA dan buruk belum tentu buruk dalam takdirNYA. Aku terlalu egois bahkan lebih sering egois karena selalu berusaha untuk menyalahkan sebuah keadaan yang tak menyenangkan dari sisi rasaku. Dan aku menampik apa yang nyata dihadapan dengan terus mencari cari apa yang tak nyata terjadi. Padahal jarak antara Cinta dan luka tak pernah jauh dari kedua belahan dada. Dan batas antara baik buruk akan terlihat pada kenyataan yang kasat mata. Bukankah terjerat dosa itu sebuah pembelajaran?

Pada mata, aku bertanya. Duhai mata, apa aku pernah melihat sesuatu yang bisa membuatmu buta? Yang aku ingat, dulu, duluuu sekali aku sering mengajakmu berkelana ke dunia fana. Dimana disana dengan mudahnya kamu bisa melihat apa yang tak semestinya kamu lihat. Kamu belum cukup umur tapi aku sudah membawamu kesana. Dan itu tidak cukup sekali tapi berkali kali. Aku rela berjam jam untuk tidak tidur, lebih tepatnya aku memaksakan diri untuk menahan rasa kantuk yang membuat kamu terasa perih hingga di luar sadarku, tiba tiba kamu meneteskan airmata. Andai saja saat itu aku mengerti airmata itu adalah airmata lukamu mungkin aku tak akan membiarkanmu meneteskan airmata. Tapi sayang, dulu aku terlalu mengabaikan sebuah sinyal. Hingga aku buta pada kenikmatan  dunia yang tak pernah tuntas untuk sampai pada puncak ambisi.

Pada lidah, aku bertanya. Hai lidah yang memang dasarnya lidah itu tidak bertulang tapi kenyataanya lidah itu teramat tajam bahkan ketajamannya bisa melebihi mata pisau yang bisa mematahkan kayu kayu besar di hutan. Berapa kali aku menusukkan ketajamanmu pada bongkahan hati hingga ia berkeping keping menjadi duri yang acapkali durinya menusuk nusuk dadaku sendiri?

Pada detak jantung aku bertanya, sudah berapa kali aku menggantungkan nama nama pada setiap detakkan nafasmu diantara bait bait puisi yang tak henti hentinya aku dendangkan di hati? adakah nama ayah aku sertakan disana? atau nama ibu yang tak sekalipun kulumati puting susunya? atau hanya ada nama nama bayangan yang kerap kucumbui dalam angan?

Pada hati aku bertanya, telah berapa kali aku terjatuh pada sebuah rongga dada yang kekar dan jangkung, dimana seharusnya aku menjadi permaesuri di istana cintanya? Tapi yang terjadi aku tetap seorang budak mengatasnamakan cinta. Cinta yang bagaimana jika ia terkurung dalam sangkar emas? Cinta yang seperti apa rasanya jika rasa pahit di dada melebihi rasa pahit kopi tanpa gula? Cinta yang berwujud apa jika pada akhirnya saat ia tersulut api, baranya tak mampu membakar ruang kesunyian. Cinta yang bagaimana ketika hujan turun ternyata air hujanlah yang sanggup mendamaikan keriuhan jiwanya.

Pada sepasang tangan, aku bertanya. Cincin yang melingkar di jari manis ini sebenarnya cincin siapa? adakah sebuah nama terukir disana? adakah sebait puisi mesra terkecup dalam emasnya? yang aku tahu, sepasang tanganku merindukan sebuah gandengan tangan dari sepasang tangan yang lain. Tangan yang lebih besar dan kuat, hingga sepasang tangan yang lain itu bisa menjaga sepasang tanganku yang sesekali terkulai lemah dan merapuh. Tapi tidak pernah sampai terjatuh.

Pada sepasang kaki, aku bertanya. Adakah jejak kakimu tak berakhir pada sebuah pijakan untuk segera kau melompat? Seperti katak, ia selalu berusaha melompat untuk segera sampai pada tujuan yang bisa memberikan kehidupan yang lebih layak. Kau haru sadari, bagaimana mungkin kau bisa tahu hidup itu layak atau tidak jikalau sekali saja kau enggan melompat? Ada satu buku yang pernah aku baca, disana tertulis “Ada kalanya, kehidupan kita dibelokkan oleh sesuatu yang tak masuk akal, yang tak mungkin, sederhana dan jauh dari pemikiran diri dan jangkauan hati tapi “yang tak” itulah yang justru mampu memberi arti hidup yang semestinya. itu semua diawali dengan tindakan “melompat”. (*Sedikit lupa dengan nama penulis dan judul buku ini, aku hanya mengingat kalimat yang aku tulis di buku harianku. Sebuah kebodohanku, aku tidak mencantumkan nama pengarang judulnya*). Maka melompatlah!!

Pada bibir aku bertanya, berapa kali aku menyebut nama Tuhanku lewat doa? Sementara jari jari tanganku tak bisa menjadi saksi berapa kali ia berdzikir.

Salam Larassati!!

Tepian Kota Mimpi antara Jogja dan Bekasi

12 September – 2 Oktober 2013

15 responses

  1. pada daku kog ga pernah bertanya kapan kita berjumpa lagi?

    *halah..

    03/10/2013 pukul 3:00 pm

    • hehehehe mba Tin, apa kabar? iya nih lama tak ada kopdar2 yah😀

      03/10/2013 pukul 3:02 pm

  2. Renungan yang indah.
    Moga Laras sehat2 aja ya sayang🙂

    03/10/2013 pukul 9:29 pm

    • Aamiinn. alhamdulillah sehat mba….terimakasih semoga mba winny juga sehat…🙂

      03/10/2013 pukul 9:30 pm

  3. Bagus mbak tulisannya🙂

    04/10/2013 pukul 6:21 am

  4. Reblogged this on Langkah-Langkah Cantik and commented:
    Sebuah tulisan yang indah,,,,,

    04/10/2013 pukul 6:21 am

  5. Teguh Puja

    Semoga banyak kebaikan menjadi bagian dari perjalananmu, Laras.

    04/10/2013 pukul 2:29 pm

    • Aamiinn….terimakasih Mas Teguh🙂

      04/10/2013 pukul 9:08 pm

  6. trisnamaja

    test aku wes iso polow wp mu hehe *ndeso+kuper*

    04/10/2013 pukul 9:38 pm

  7. refleksi menapaki jejak di Jogja?

    05/10/2013 pukul 9:25 am

    • tidak hanya di Jogja, setiap tempat yanng pernah aku lewati selalu kujadikan refleksi diri lagi kalau ada kesempatan kembali🙂

      06/10/2013 pukul 4:34 am

  8. diaryperantau

    So sweet🙂

    05/10/2013 pukul 6:41 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s