Laron….

Beberapa hari ini di rumah saat menjelang malam, laron laron mulai berterbangan, berkumpul di bawah temaram cahaya bolam. Antara begah dan rasa penasaran kenapa laron laron itu selalu mencari cahaya. Sempat berpikir kalau laron itu asalnya dari rayap tapi dibantah sama sodara. Alhasil aku penasaran dengan keberadaan laron tersebut. Mulailah beraksi mencari tahu asal muasal laron di google.

Dan benar bahwa laron itu adalah rayap yang sudah matang, dimana mereka akan berterbangan mencari cahaya terang semata mata karena satu tujuan, yaitu untuk mencari pasangan dan kawin. 

Maka berkumpullah mereka dan mulai mencari cari pasangannya untuk segera diajak kawin. Setelah mereka bertemu pasangannya dan kawin, sayap sayap mereka akan tanggal alias rontok. *pantesan kalau pagi pasti banyak sekali sayap sayap berserakan di lantai*

Tujuan mereka kawin? Jelas dong untuk mendapatkan keturuan dan mempertahankan kehidupannya juga untuk membangun koloni koloni baru dalam dunia rayap dan laron. Siklus yang terus berputar.

Rayap—Laron—Rayap

Yang buat aku semakin terperanggah *halah lebay* tapi jujur saja baru kali ini aku mengetahuinya hehe bahwa laron laron yang tidak menemukan pasangan untuk diajak kawin maka laron itu akan mati saat menjelang fajar. Iya juga yah kadang banyak laron laron yang mati selain sayap sayap yang berserakan di lantai. *ngenes tenan nasibmu* maka dari itu ada istilah bahwa laron hanya hidup sekali padahal kalau dicermati banget laron itu kan rayap yang udah matang jadi sebelum menjadi laron dia sudah hidup lama sebagai rayap.

Dari siklus kehidupan laron ini ada sedikit yang aku tarik benang merahnya, pada dasarnya kehidupan rayap yang menjadi laron itu penuh perjuangan. Tidak gampang rayap bisa menjadi laron, dimana mungkin sebelum menjadi laron sudah jadi korban pemangsanya dan yang berhasil menjadi laron pun tidak mudah untuk menemukan pasangan hidupnya. Mereka harus terbang dengan cara bergerombol *mungkin istilah awamnya bertarung kali yah* mencari cahaya terang. Semua perlu perjuangan dan perjuangan itu sudah pasti akan menuju dua kepastian, dimana antara hidup dan mati. Seperti yang aku tulis tadi, laron yang tidak berhasil menemukan pasangannya akan mati saat itu juga.

Jadi intinya, hidup dari koloni apapun tetap memerlukan perjuangan keras demi mencapai tujuannya.

Jadi intinya juga kalau mau bertemu dengan jodohnya harus banyak banyak bergaul, berkumpul dengan orang orang baru  nah dari situ akan ketemu deh yang bisa bikin hati KLIK terus kawin guna mempertahankan siklus kehidupan manusia *bagian tulisan yang ini khusus buat nyindir diri aku sendiri hehehe*

****belum nemu foto laron nih, lupa semalam mau moto xixixixi jadi kali ini tak ada foto dulu deh postingannya xixixixixi****

 

Salam Larassati!!

B-kasi, 091013//05.30′

14 responses

  1. Sya biasa meminimalkan cahaya bila sdh banyak laronnya… setengah jam kemudian biasanya sdh hilang mb..

    09/10/2013 pukul 7:22 am

    • iya, semalam ajah aku matikan semua lampu di dalam rumah kecuali lampu teras terus pintu aku buka alhasil mereka berbondong2 keluar semua barulah pintu tak tutup lagi😀

      09/10/2013 pukul 12:58 pm

  2. Larass tahu gak bahwa setelah jadi laron pun mereka masih harus menghadapi pemangsa, termasuk kita, karena laron enak dibikin peyek atau digoreng sangan 😛

    09/10/2013 pukul 9:32 am

    • Betul. Laron peyek memang maknyuss !

      09/10/2013 pukul 9:54 am

      • kayaknya Larass kok gak tega makannya yah hehehehe

        09/10/2013 pukul 12:59 pm

    • iya tadi baca2 artikel banyak tulisan kalau laron enak di bikin peyek hmmmm gimana rasanya yah? mending peyek udang hehehe

      09/10/2013 pukul 12:37 pm

  3. Kehidupan Laron ini malah biasanya dijadikan analogi kehidupan urban yang terpesona dengan keindahan kota. Seperti judul lagunya Hari Moekti.

    09/10/2013 pukul 9:58 am

    • aarrgggg Pak Iwan selalu mengajak utk tebak2an lagu dan endingnya pasti larass demen sama lagu yg dimaksud pak Iwan hehehe yg ini lagu Hari Mukti yg mana? larass suka yg Hujan Rindu😀

      09/10/2013 pukul 12:41 pm

      • Ini saat Hari Moekti bersama Makara Band.

        09/10/2013 pukul 12:50 pm

      • liriknya bagus yah pak maknanya, matur suwun Pka Iwan sudah mengenalkan lagu ini hehe baru tahu dan baru dengar lagu ini😀

        09/10/2013 pukul 12:55 pm

      • Itu lagu jaman saya masih baru masuk SMP. Saya ingat itu, karena teman baru SMP saya pernah minjemin kasetnya.

        Jarang kita temui lirik cerdas di masa sekarang ini, karena saat ini kita sedang dijajah boyband/boygirl, yang di tengah-tengah liriknya ada bahasa Korea-nya. Ingin rasanya segera mengakhiri penjajahan ini.

        09/10/2013 pukul 1:01 pm

      • kebebasan berkarya yang tak tertata….lagu2 sekarang hampir semua liriknya aneh2 tidak hanya boyband/boygirl itu saja

        09/10/2013 pukul 1:07 pm

      • Makara – Laron Laron
        Album : Laron Laron

        Secercah cahaya dalam kegelapan
        Dian menyala dan membagi terang
        Laron-laron terpesona datang menghampiri
        Namun hangus dalam nyala api
        diam yang panas membara

        Namun dian tetap indah dan menyala megah
        Beribu laron datang lagi dan kembali musnah
        Tiada sadar bahaya di balik keindahan
        Berselubung berjuta kehangatan
        dan kenikmatan dunia

        Apakah engkau juga laron yang terperdaya
        Apakah engkau ingin jadi laron tertipu

        Laron laron desa berduyun duyun ke kota
        Menuju gemerlap lampu lampu yang indah
        Dengan harapan dan impian tentang nirwana
        Namun apa yang ditemui
        hanyalah sejuta kecewa

        09/10/2013 pukul 12:55 pm

  4. Pasang tampah basah di bawah laron.
    Trus digoreng deh. Nyam nyam..

    09/10/2013 pukul 10:28 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s