Menunggu…

mena

Belakangan ini, isi otak saya berisi tentang kematian. Saya sendiri juga heran mengapa dan ada apa. Selama ini saya menganggap mungkin semua karena sebuah perasaan kecewa saya pada sesuatu yang belum bisa saya raih alhasil isi otak saya cenderung pada sebuah kesedihan tapi ketika saya sedikit bisa mengesampingkan rasa kecewa saya, tetap saja bayangan kematian itu menghantui.

Sudah sebulan lebih, hampir setiap malam saya kurang nyenyak tidur. Padahal saya sudah mengurangi kopi di saat menjelang sore hari, *dulu selalu hampir sering menjelang sore saya minum kopi karena setiap malam memang saya sengaja begadang untuk menyelesaikan sebuah keinginan itu* dan kebiasaan saya minum kopi sekarang di pagi hari karena harus menahan kantuk yang amat berat.

Ketika malam datang, pikiran saya sedikit gundah. Seperti merasa bahwa kematian itu selalu datang di malam hari padahal saya tahu kematian itu bisa saja terjadi di pagi, siang atau sore tapi untuk saat ini dan belakangan ini saya merasa cemas ketika malam datang. Apa saya mengidap syndrom malam? apa ada yah syndrom malam itu? Saya tidak ingin memperpanjang masalah malam ini walau pun kecemasan itu ada setiap malam menjelang saya tetap berusaha untuk tenang dan menganggap bahwa hari masih pagi, bukan malam.

Dulu, padahal saya selalu menunggu malam datang. Andai saya bisa, ingin rasanya hari hari itu adalah malam. Buat saya, malam adalah selimut yang menghangatkan dan sahabat yang sangat menenangkan. Malam bagi saya sebuah kepingan puisi yang harus dilumati setiap detik menuju menit, berganti jam lalu berganti hari, dimana kehadiran pagi adalah arti dari sebuah akhir penantian di malam hari.

nita

Setiap hari berita kematian menyuara diantara TOA TOA masjid atau mushola. Kebetulan tempat tinggal saya sekarang di kelilingi oleh kuburan. Hampir setiap hari saya selalu melewati kuburan karena memang akses untuk menuju ke satu tempat yang harus saya tuju harus melewati kuburan apalagi jalan itu adalah jalan pintas dan jalan yang pas untuk menghindari operasi polisi *saya belum punya SIM C* Bisa dipastikan hampir setiap hari selalu saja ada mayat yang di kuburkan.

Setiap melewati kuburan, pikiran saya selalu ke almarhumah ibu dan selalu saya menenggok di mana beliau di kuburkan. Tanah yang sudah tidak bergunduk dan telah rata dengan tanah aslinya, hanya pembatas bata dan batu nisan yang memisahkannya. Setiap saat, saya selalu menenggok kesana karena saya selalu melewatinya.

Setelah bayangan ibu saya menghilang bersama berlalunya perjalanan saya meninggalkan kuburan itu, selalu berakhir pada sahabat saya. Dia, selalu dia. Entah saya tak tahu kenapa dan mengapa. Jangan pernah bertanya pada saya karena saya sendiri tidak pernah tahu jawabannya.

Sahabat?? rasanya terlalu berlebihan kalau saya menyebutkan dia sebagai sahabat saya, mungkin lebih pantas menyebutnya hanya sebatas teman. Karena saya sendiri tak tahu, arti saya baginya. Yang saya tahu, dia selalu datang ketika dia sedang dilanda keresahan dan saya selalu berusaha ada untuknya sekalipun hanya lewat sms, chatting ataupun pesan di dunia maya. Dan sesekali saya berusaha memenuhi ajakannya untuk bertemu. Percakapan yang bisa dikatakan sering tak pernah nyambung antara saya dan dia ketika bertatap muka. Maafin saya teman yang susah untuk memahamimu. Tak terasa hampir 2 tahun kepergianmu.

Perasaan saya semakin tak karuan tatkala saya harus berpapasan dengan rombongan para pelayat yang membawa keranda. Hampir setiap hari saya berpapasan. Entah keranda itu masih berisi atau sudah kosong pertanda mayat sudah di kembalikan pada tanah tempat asalnya. Saya selalu bergumam, kelak keranda itu juga akan membawa saya kembali. Kembali pada tanah. Saya hanya sedang menunggu.

Saya jadi teringat pada sebuah janji saya sendiri yang belum terpenuhi. Saya berjanji untuk menjadi lebih baik tapi pada kenyataannya hingga saya menulis ini, saya tetap belum bisa menjadi manusia yang baik.

Semoga janji itu bisa saya penuhi sebelum kematian benar-benar datang. Karena saya tahu, kematian adalah hal paling dekat dengan saya, dia selalu mengintip dan bersiap-siap untuk menjemput, saya harus siap menunggu.

 

 

Salam Larasati.

4 responses

  1. pindah area saja laras biar ikut “bahagia” dibanding deket kuburan..😀
    semangaaattt..

    31/10/2013 pukul 7:23 pm

    • hehe ndak mungkin pindah mba, soalnya rumah ortu emang di kawasan kuburan hehe tempat main saya sewaktu kecil juga kuburan😀

      31/10/2013 pukul 10:22 pm

  2. gapapa Laras, menurut saya itu hal yg wajar. Saat ini Laras mungkin sedang sensitif dengan berita2 kematian. Kadang kita mungkin nggak mengerti, kenapa kematian seseorang yg mungkin bahkan tak kita kenal bisa mempengaruhi fikiran kita. Pengaruh yang justru membuat kita ggak nyaman.

    coba alihkan perhatianmu pada hal2 yang lebih menyenangkan hatimu. Dan sebagai muslim, kita diajarkan untuk selalu berdzikir (mengingat Allah bukan wiridan, beda llho dzikir dengan wirid🙂

    Kalau bisa, di media sosial Laras gabung dgn grup2 yg sesuai dengan minat atau hobimu, Laras bisa ketemu teman2 yg punya kegemaran yg sama.BIasanya komunnitas2 seperti itu punya kegiatan bersama yg bisa diikuti.

    Yg pentiing jangan biarkan hati dan hari2mu kosong. Jangan takut sayang, Allah selalu menemanimu.🙂

    31/10/2013 pukul 9:09 pm

    • Bu Winny, baru kali ini Larass dapat koment yang sangasangat perhatian sekali jadi terharu sama bu Winny, terimakasih banyak untuk masukannya bu…sekali lagi terimakasih untuk perhatiannya, semoga Allah selalu menjaga kita semua dalam kebaikan. Amin🙂

      31/10/2013 pukul 10:25 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s